BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Di Era Modernisasi dan bisnis ini

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Era Modernisasi dan bisnis ini, setiap orang ingin melakukan hal dengan mudah, menguntungkan dan minim resiko. Dalam segala kegiatan salah satunya cara menyimpan uang. Setiap orang baik secara pribadi maupun kelompok usaha menginginkan tempat penyimpanan uang yang aman dan mudah, dikarenakan maraknya tindakan criminal berupa perampokan, pencurian, yang bahkan bisa berakibat dengan pembunuhan. Saat ini uang bisa membuat mata menjadi buta, hati menjadi gelap, dan pikiran menjadi pendek. Dan tempat yang dipercayai untuk menyimpan uang secara aman oleh mayarakat adalah bank. Bank adalah lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dalam menunjang perekonomian nasional yang terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya adalah jenis bank berdasarkan kegiatan operasionalnya yaitu bank konvensional dan bank syariah. Bank konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan secara konvensional, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran secara umum berdasarkan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Pada bank konvensional ini system pembagian keuntungannya dengan bunga berdasarkan jumlah tabungan atau simpanan. Sementara bagi umat muslim yang merupakan mayoritas masyarakat Indonesia system bunga tidak diperbolehkan dalam ajaran islam karena itu merupakan riba atau penggandaan jumlah uang. Mengapa system bunga dilarang? Karena system bunga dapat menyebabkan salah satu pihak terbebani apabila keuntungan yang didapatkan tidak sesuai harapan. Dimana jumlah pembagian keuntungan bernilai tetap. Seperti yang tercantum dalam surah Ar-Ruum ayat 39 tentang pelarangan riba yang berbunyi: “Dan sesuatu riba (tambahan yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”. Untuk menghindari pelaksaan transaksi secara riba ini, maka MUI (Majlis Ulama Indonesia) melakukan prinsip bank secara syariat islam.

Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah islam atau bank yang dalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah islam, khususnya pada tata cara bermuamalah. Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Bank syariah diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 agustus 1990. Dalam rangka menjalankan kegiatannya bank syariah berlandaskan Alquran dan Hadits. Seperti yang tercantum pada falsafah dasar beroperasinya bank syariah dalam hubungan transaksinya adalah efisiensi, keadilan, dan kebersamaan. Efisiensi bermaksud membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atas proporsi masukan dan keluarannya. Sementara kebersamaan mengacu pada prinsip saling membantu dan menasihati untuk meningkatkan produktivitas.
Dewasa ini banyak berkembang bank yang berlandaskan syariah. Sehingga persaingan pada perbankan syariah pun meningkat baik dalam menarik nasabah maupun investor. Salah satu cara untuk menarik/menambah kepercayaan nasabah dan investor adalah dengan mencari tahu kemampuan menghasilkan laba yang diperoleh oleh bank dalam kegiatan operasionalnya. Salah satunya kemampuan menghasilkan laba berdasarkan total asset yang dimilki bank. Karena semakin tinggi laba yang dihasilkan secara otomatis akan menarik nasabah untuk berinvestasi pada bank, hal ini dikarenakan nasabah tidak akan takut ikut merasakan kerugian yang akan dialami oleh bank jika bank tidak mampu menghasilkan laba yang besar karena prinsip dasar bank syariah adalah bagi hasil bukan system bunga.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bank syariah pertama yang berdiri dindonesia adalah Bank Muamalat Indonesia. Dengan berdirinya Bank Muamalat ini masyarakat tidak perlu khawatir terjadinya transaksi riba, karena system yang digunakan Bank Muamalat ini adalah system bagi hasil, yaitu seberapa besar keuntungan yang didapatkan akan dibagi rata untuk kedua belah pihak. Bank Muamalat Indonesia memiliki beberapa produk perbankan hampir sama dengan produk bank umum konvensional, yang membedakan adalah cara pemberian dan cara penerimaan kas. Beberapa produk bank muamalat diantaranya piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional. Piutang murabahah, merupakan tansaksi jual beli suatu barang dengan harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Sehingga akad ini dapat mempengaruhi perolehan laba pada suatu perbankan syariah. Pinjaman Qardh, adalah pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah atau badan usaha yang memiliki keperluan mendesak dengan tidak dibebankan biaya bunga pada saat pengembalian pinjaman kecuali biaya administrasi. Dana syirkah temporer sama dengan bagian dari dana pihak ketiga pada bank konvensional. Dimana mudharabah mutlaqah, mudharabah muqayyadah, dan produk lain yang sama merupakan bagian dari dana syirkah temporer. Beban operasional, menjadi salah satu yang dapat mempengaruhi penghasilan laba, jika beban operasional tidak sesuai dengan pendapatan maka dapat menyebabkan laba berfluktuasi.

Pada laporan keuangan tahunan Bank Muamalat Indonesia menunjukkan tingkat profitabilitas ROA meningkat setiap tahunnya dimulai dari tahun 2007 hingga 2012. Namun pada tahun 2009 tingkat profitabilitas ROA mengalami penurunan, hal ini dikarenakan total laba sebelum pajak mengalami penurunan nilai dari 301.168.647 (dalam ribuan rupiah) menjadi 64.760.977. Dan naik kembali pada tahun 2010 disebabkan oleh laba sebelum pajak yang naik kembali menjadi 231.076.707. Selanjutnya mengalami penurunan kembali pada tahun 2013 yang cukup jauh dengan nilai penurunan laba sebelum pajak yang menjadi penyebabnya yaitu sebesar 239.350.600 dibandingkan dengan jumlah pada tahun 2012 yaitu 521.841.321. Dan terus menurun di tahun 2014 ,lalu kembali naik ditahun 2015 dengan jumlah laba sebelum pajak sebesar 108.909.838 dari 96.719.801 pada tahun 2014. Dan terus meningkat hingga hingga 2016 dengan total laba sebelum pajak 116.459.114.

Berikut tabel fluktuasi tingkat profitabilita ROA periode tahun 2007 hingga 2016 dan tabel laba sebelum pajak (EBIT) periode 2007 hingga 2016.

Tabel 1.1
Rasio Keuangan Return On Assets (ROA) Bank Muamalat (dalam %)
Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
ROA 2,27 2,60 0,45 1,36 1,52 1,54 0,50 0,17 0,20 0,22
Sumber: www.bankmuamalat.co.id
Tabel 1.2
Jumlah Laba Sebelum Pajak Pada Bank Muamalat (dalam ribuan rupiah)
Tahun 2007 2008 2009 2010 2011
EBIT 212.038.351 301.168.647 64.760.977 231.076.707 371.670.266
Tahun 2012 2013 2014 2015 2016
EBIT 521.841.321 239.350.600 96.719.801 108.909.838 116.459.838
Sumber: www.bankmuamalat.co.id
Kemampuan perusahaan memperoleh laba melalui pengembalian atas asset/return on assets (ROA) dapat berasal dari pembiayaan-pembiayaan yang dilakukan oleh bank. Salah satunya adalah piutang murabahah dimana pendapatan dari hasil akad inilah yang nantinya akan menambah nilai laba pada bank. Selain itu laba bank juga dapat mengalami fluktuasi melalui pinjaman qardh. Karena pinjaman qardh merupakan pinjaman yang tidak disyaratkan akan bunga melainkan hanya jumlah pinjaman dan biaya administrasi yang harus dikembalikan dan system pemberiannya yang berasaskan tolong menolong ini dapat menimbulkan resiko piutang tak tertagih yang cukup besar (dapat dilihat pada Ketentuan Syar’i Pinjaman Qardh). Dana Syirkah Temporer pula berpotensi dalam perolehan laba, dikarenakan system bagi hasilnya yang dapat menimbulkan kerugian apabila dana yang dikelola tidak berhasil. Dan beban operasional yang merupakan beban beban yang ditanggung perusahaan dalam menjalankan usahanya merupakan peranan terbesar dalam peningkatan atau penurunan laba. Semakin besar beban operasional maka akan menyebabkan laba mengecil apabila perusahaan atau bank tidak dapat menutupi beban operasional dengan baik.

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang menyebabkan tingkat profitabilitas ROA mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Sehingga pada penelitian ini, penulis akan mencari pengaruh dari piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional terhadap profitabilitas yaitu Return On Asset (ROA), apakah berpengaruh secara signifikan baik secara simultan dan parsial serta positif maupun negative.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka perumusan masalah yang penulis paparkan adalah sebagai berikut:
Apakah Piutang Murabahah berpengaruh terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk?
Apakah Pinjaman Qardh berpengaruh terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk?
Apakah Dana Syirkah Temporer berpengaruh terhadap Profitabilita Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk?
Apakah Beban Operasional berpengaruh terhadap Profitabilitas Return On Assets pada PT. Bank Muamalat Indonesia?
Apakah Piutang Murabahah, Pinjaman Qardh, dan Dana Syirkah Temporer, dan Beban Operasional berpengaruh terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk?
Batasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang dan mengambang dari tujuan yang direncanakan maka ditentukanlah batasan masalah yang dicari yaitu, profitabilitas yang digunakan adalah Return On assets (ROA) dengan menghitung total laba sebelum pajak per total asset dengan data triwulan dari tahun 2009 hingga 2016.

1.4 Tujuan Penelitian
Maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui pengaruh Piutang Murabahah terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Untuk mengetahui pengaruh Pinjaman Qardh terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Untk mengetahui pengaruh Dana Syirkah Temporer terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalt Indonesia Tbk.

Untuk mengetahui pengaruh Beban Operasional terhadap Return On Assets pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Untuk mengetahui pengaruh Piutang Murabahah, Pinjaman Qardh, Dana Syirkah Temporer, dan Beban Operasional terhadap Profitabilitas Return On Asset pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Kegunaan Penelitian
Kegunaan Ilmiah
Bagi penulis, penelitian ini tidak hanya sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana ekonomi di Sekolh Tinggi Ekonomi Pembangunan Tanjunpinang, namu juga sebagai salah satu sarana mengimplementasikan teori-teori yang penulis dapatkan selama waktu perkuliahan, dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti masalah atau objek yang sama.

Kegunaan Praktis
Bagi perusahaan yang bersangkutan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi perusahaan dalam meningkatkan omset (pendapatan) atau laba.

Bagi peneliti,untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, bagi peneliti lainnya dapat dijadikan sumber dan acuan untuk meneliti pada judul yang sama dengan objek yang berbeda.

Bagi pembaca lainnya, diharapkan dapat menjadi informasi dan sumber bacaan yang berguna, bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan pembaca yang belum mengetahui tentang hal-hal yang dibahas peneliti.

Sistematika Penulisan
BAB 1PENDAHULUAN
Bagian ini merupakan pengantar dari penelitian yang meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB IIMETODOLOGI PENELITIAN
Bagian ini menjelaskan teori-teori meliputi pengertian dari setiap variable-variabel yang diteliti beserta bagian-bagian dari variable yang ingin dibahas oleh peneliti, dan kerangka pemikiran, hipotesis serta penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti.

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA
Bagian ini berisi tentang jenis penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, definisi operasional variable, tekhnik pengolahan data, dan analisis data.

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menerangkan profil dari perusahaan, dan membahas hasil dari pengolahan data, analisis data, pengujian hipotesis, serta membahas hasil dari keseluruhan penelitian.
BAB VPENUTUP
Bab ini merupakan penutup dari penelitian yang didalamnya terdapat kesimpulan dari hasil penelitian dan saran dari peneliti untuk pembaca atau peneliti selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Bank Syariah
2.1.1Pengertian Bank Syariah
Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan kegiatan operasionalnya bank dapat dibedakan menjadi bank konvensional dan bank syariah. Bank konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dengan pembagian keuntungan menggunakan system bunga.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencangkup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Menurut Mia Lasmi Wardiah (2013:76), bank syariah merupakan salah satu bentuk perbankan nasional yang mendasarkan operasionalnya dalam bentuk pada syariat hukum islam. Sementara menurut Rizal Yaya, dkk (2014:48) bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri atas Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Zainuddin Ali (2010:1) mengatakan, bank syariah terdiri atas dua kata yaitu (a) bank, yang berarti suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan dari dua pihak, yaitu pihak yang berkelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. (b) syariah, dalam versi bank syariah Indonesia adalah aturan perjanjian berdasarkan yang dilakukan oleh pihak bank dan pihak lain untuk penyimpangan dana dan/ pembiayaan kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai dengan hukum islam.

Sedangkan Sri Indah Nikensari (2012:2) berpendapat bahwa perbankan syariah tidak mengenal rezim bunga, namun menawarkan kerja sama yang saling menguntungkn antara pemilik modal (Shahibul Mal) dengan pengusaha (Mudharib) melalui skema mudharabah atau musyarakah. Selain itu Ahmad Rodoni dan abdul Hamid (2008:14) juga menyatakan bahwa bank syariah yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik dalam penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah bank yang dalam pelaksanaan kegiatannya baik dalam penghimpunan dana ataupun penyaluran dananya dilakukan dengan dan atas hukum atau ajaran islam yang berlandaskan pada kitab suci Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW, yang tidak menganjurkan perbankan melakukan system bunga yang dianggap sebagai riba (menggandakan uang/keuntungan yang didapatkan) melainkan dengan sisten bagi hasil atas keuntungan yang didapat.

2.1.2 Fungsi Bank Syariah
Berdasarkan dalam UU No.21 Tahun 2008 Pasal 4 Tentang Perbankan Syariah, disebutkan bahwa bank syariah wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Bank syariah juga dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitulmal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, dan atau dana sosial lainnya (antara lain denda terhadap nasabah atau tazir) dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat. Selain itu bank syariah juga dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).

Menurut Rizal Yaya, Aji Erlangga M, dan Ahim Abdurahim (2014:48), fungsi bank memiliki setidaknya 4 fungsi, dijabarkan sebagai berikut:
Fungsi manajer investasi
Fungsi ini dilihat dari segi penghimpunan dana oleh pihak bank syariah, khususnya dana mudharabah. Maksudnya adalah bank syariah sebagai manajer investasi dari pemilik dana (shahibul mal) dalam hal ini harus memastikan bahwa dana yang disalurkan pada penyaluran yang produktif, sehingga dapat memberikan keuntungan yang nantinya akan dibagihasilkan antara bank dan pemilik dana. Jika pada bank konvensional imbalan yang diberikan berupa bunga yang jumlahnya tetap berdasarkan jumlah simpanan pada bank, maka pada bank syariah imbalan yang diberikan berdasarkan system bagi hasil, yakni jumlah bergantung pada pendapatan bank yang berasal dari penegelolaan dana mudharabah.

Fungsi investor
Bank berfungsi sebagai investor yang memberikan dana pinjaman pada sektor sektor produktif sesuai ketentuan syariah.

Fungsi sosial
Pada fungsi sosial ini terdapat dua instrumen yang digunakan bank syariah, yaitu instrumen zakat, infaq, sadakah, dan wakaf (ZISWAF) dan istrumen qardhul hasan. Instrument ZISWAF berfungsi untuk menghimpun ZISWAF dari masyarakat, pegawai bank, serta bank sendiri sebagai manajer investasi. Kemudian dana yang dihimpun disalurkan kepada yang berhak menerima bantuan hibah guna memenuhi kebutuhannya. Sementara instrument qardhul hasan berfungsi menghimpun dana dari penerimaan yang tidak memenuhi kreria halal serta dana infaq dan sedekah yang tidak ditentukan peruntukkannya secara spesifik oleh yang memberi.

Fungsi jasa keuangan
Bank syariah memberikan jasa keuangan yang tidak jauh berbeda dari bank konvensional seperti layanan kliring , sewa menyewa, transfer, inkaso dan lainnya. Hanya yang membedakannya adalah mekanisme mendapatkan keuntungannya pada bank syariah harus sesuai dengan prinsip syariah.

2.1.3 Dasar Hukum Bank Syariah
Menurut Sentosa Sembiring (2012:3) secara yuridis normatif dan yuridis
empiris. Secara yuridis normatif tercatat dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu:
Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan
Undang-Undang No.10 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1998 tentang Perbankan
Undang-Undang No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
Undang-Undang No.3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Sementara secara yuridis empiris dapat dilihat dari perbankan syariah yang tumbuh dan berkembang secara pesat pada umumnya diseluruh Ibukota Provinsi dan Kabupaten di Indonesia. Bahkan beberapa bank konvensional dan lembaga keuangan lainnya membuka unit usaha syariah berupa bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah dan sebagainya.

2.1.4 Prinsip-Prinsip Bank Syariah
Menurut Djoko Muljono (2015:418) pada bank syariah terdapat beberapa prinsip atau aturan perjanjian berdasarkan hukumislam antara bank dengan pihak lain untuk menyimpan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dilakukan sesuai dengan syariah, antara lain:
pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah)
pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah)
prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah)
pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah)
sewa dengan pilihan pemindahan kepemilikan barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina)
Dalam prinsip syariah transaksi yang tidak boleh dilanggar menurut Sri Indah Nikensari (2012:26), terdiri:
Riba, yaitu penambahan pendapatan secar tidak sah.

Maysir, yang tidak pasti dan untung-untungan.

Gharar, yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan.

Haram, objeknya dilarang dalam syariah.

Zalim, yang menimbulkan ketidak adilan bagi pihak lainnya dalam transaksi.

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional
Perbankan syariah memiliki beberapa perbedaan dengan perbankan konvensional dalam menjalankan aktivitas perusahaannya. Seperti perhimpunan dana, penyaluran dana, pembagian keuntungannya, fungsinya, prinsip, dan investasi serta resiko usahanya. Berikut beberapa perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional menurut Sri Indah Nikensari (2012:124).

Tabel 2.1
Perbedaan Antara Bank Konvensional Dengan Bank syariah
Bank Konvensional Bank syariah
Fungsi dan Kegiatan Bank Intermediasi, Jasa keuangan Intermediasi, Manajer Investasi, Investor, sosial, Jasa Keuangan
Mekanisme dan Objek Usaha Tidak Anti-Riba dan Anti-Maysir Anti-Riba dan Anti-Maysir
Prinsip Dasar operasi Bebas Nilai (Prinsip Materialis), Uang sebagai komoditi, Bunga Tidak bebas Nilai (Prinsip Syariah Islam), Uang sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditi, bagi hasil jual beli sewa.

Prioritas Pelayanan Kepentingan Pribadi Kepentingan Publik
Orientasi Keuntungan Tujuan sosial-ekonomi islam, keuntungan
Bentuk Bank Komersial Bank Komersial, bank pembangunan, bank universal atau multi-purpose
Evaluasi Nasabah Kepastian pengembalian pokok dan Bunga (creditworthiness dan collateral) Lebih hati-hati karena partisipasi dalam resiko
Hubungan Nasabah Terbatas debitor-debitor Erat sebagai mitra usaha
Sumber likuiditas jangka pendek Pasar uang, Bank Sentral Pasar uang syariah, Bank Sentral
Pinjaman Yang diberikan Komersial dan non-komersial, Berorientasi Laba Komesial dan non komersial, berorientasi laba dan nirlaba
Lembaga Penyelesaian Sengketa Pengadilan, Arbitrase Pengadilan Agama, arbitrase Syariah Nasional
Risiko Usaha 1.Risiko Bank tidak terkait langsung dengan debitur, resiko debitur tidak terkait langsung dengan bank
2.kemungkinan terjadi negative spread 1. dihadapi bersama antara bank dan nasabah dengan prinsip keadilan dan kejujuran
2. tidak mungkin terjadi negative spread
Struktur Organisasi Pengawas Dewan Komisaris Dewan Komisaris, Dewan Pengawas syariah, Dewan Syariah Nasional
Investasi Halal atau Haram Halal
2.1.6 Konsep Bagi Hasil dan Bunga
Dalam perbankan syariah dikenal dengan system bagi hasil, yang sangat berbeda dengan system bunga yang mengandung riba dalam perbankan konvensional. Transaksi menggunakan bunga (riba) dilarang dalam berbagai agama di Indonesia. Yang diperbolehkan adalah dengan system bagi hasil. Berikut adalah perbandingan bunga dengan bagi hasil menurut Sri Indah Nikensari (2012:24).

Tabel 2.2
Perbandingan Bunga Dengan Bagi Hasil
BUNGA BAGI HASIL
Bunga biasanya terjadi dalam transaksi pinjaman (kredit).

Dana untuk pembayaran bunga bisa diambil dari penghasilan manapun.

Besarnya prosentase bunga dikaitkan dengan jumlah uang yang dipinjamkan.

Bunga harus tetap dibayar walaupun proyek rugi.

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan proyek yang dibiayai berlipat.

Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk islam. Bagi hasil hanya terjadi pada akad mudharabah dan musyarakah bukan akad qordh.

Dana bagi hasil hanya bisa diambil dari hasil pengelolaan dana tersebut.

Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

Bagi hasil adalah bagi untung dan bagi rugi. Kalau untung dibagi menurut nisbah dan kalau rugi ditanggung oleh penyandang dana.

Jumlah bagi hasil meningkat seiring dengan peningkatan jumlah keuntungan.

Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil.

Piutang Murabahah
Menurut Wangsawidjaja (2012:200) akad murabahah adalah transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli. Sedangkan menurut UU Perbankan Syariah yang dimaksud dengan akad murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati. Rizal Yaya dkk (2016:160) menyatakan murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli (PSAK 102 paragraf 5).

Sementara menurut Sugeng Widodo (2017:33) murabahah adalah transaksi jual beli yang mana si penjual harus mengungkapkan secara jujur kos komoditas yang dimilikinya ditambah keuntungan yang telah disepakati para pihak (penjual dengan pembeli). Selain itu Ismail (2016:138) mengatakan bahwa murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu. Dalam tulisan Adiwarman Karim (2008:113) murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa piutang murabahah adalah piutang yang berasal dari transaksi jual beli antara pejual dan pembeli dengan kesepakatan penjual harus mengungkapkan/menyebutkan dari harga beli, harga perolehan, hingga harga jual kepada pembeli setelah ditambah keuntungan.

2.2.1Tujuan/Manfaat Pembiayaan Murabahah
Tujuan dan manfaat transaksi murabahah menurut Wangsawidjaja (2012:205) adalah sebagai berikut:
Bagi Bank
Manfaat pembiayaan murabahah bagi bank adalah sebagai salah satu bentuk penyaluran dana untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk margin.

Bagi Nasabah
Sedangkan manfaat bagi nasabah adalah merupakan salah satu cara untuk memperoleh barang tertentu melalui pembiayaan dari bank. Nasabah dapat mengangsur pembayaran dengan jumlah angsuran yang tidak akan berubah selama masa perjanjian.

Dasar Hukum Pembiayaan Murabahah
Dasar hukum pembiayaan murabahah menurut Wangsawidjaja (2012:206) adalah:
Pasal 19 ayat (1) huruf d dan ayat (2) huruf d serta pasal 21 huruf b angka 2 UU Perbankan Syariah.

Fatwa DSN No.04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah, No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang uang Muka dalam Murabahah, No. 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang Diskon dalam Murabahah, No. 23/DSN-MUI/III/2000 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah, No. 46/DSN-MUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murabahah, No. 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak mampu Membayar, No. 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah, dan fatwa DSN No. 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah.

PBI No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah besrta ketentuan perubahannya.

PSAK No. 102 tentang Akuntansi Murabahah dan PAPSI.

Pinjaman Qardh
Menurut Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin (2013:24), transaksi Qardh timbul karena salah satu pihak meminjamkan objek perikatan yang berbentuk uang kepada pihak lainnya, tanpa berharap mengambil keuntungan materil apapun. Berdasarkan pendapat Zainuddin Ali (2010:44) Qardh al-hassan merupakan salah satu produk yang ditawarkan dari segi pembiayaan pada perbankan syariah. Qardh al-hassan atau benevolent loan adalah suatu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata-mata. Dikatakan kewajiban sosial karena peminjam tidak dituntut untuk mengembalikan apapun kecuali modal pinjaman.

Disisi lain Rizal Yaya, Aji Erlangga M, dan Ahim Abdurrahim (2014:291) mengatakan bahwa, secara terminology qardh berarti menyerahkan harta kepada org lain yang menggunakannya untuk dikembalikan gantinya pada suatu saat. Akad qardh merupakan akad yang memfasilitasi transaksi peminjaman sejumlah dana tanpa adanya pembebanan bunga atas dana yang dipinjam oleh nasabah. Sehingga transaksi qardh merupakan transaksi sosial karena peminjam tidak mengambil keuntungan dari pinjaman yang diberikan.

Djoko Muljono (2015:201) berspekulasi bahwa pinjaman qardh merupakan pinjaman yang tidak mensyaratkan adanya imbalan, tetapi peminjam diperkenankan untuk memberi imbalan. Bank hanya boleh mengenakan biaya administrasi. Jika pada akhir periode peminjam dana qardh tidak dapat mengembalikan dana, maka pinjaman qardh dapat diperpanjang atau dihapusbukukan. Sementara Nurul Huda dan Mohamad Heykal (2010:58) mengatakan bahwa qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali.

Selanjutnya Dwi Suwiknyo (2010:36) mengatakan Al-Qardh (pinjaman kebaikan) digunakan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka pendek (short time). Dapat disimpulkan pinjaman qardh sebagai pinjaman yang diberikan oleh bank syariah kepada nasabah untuk keperluan mendesak yang pengembaliannya di kembalikan dalam jumlah yang sama dalam jangka waktu tertentu dan pembayarannya dilakukan secara angsuran ataupun sekaligus.

2.3.1 Jenis Akad Qardh
Dalam PAPSI 2013 (h.7.1) pada buku tulisan Djoko Muljono (2015:214) akad qardh dalam Lembaga Keuangan Syariah terdiri dari 2 macam, yaitu:
Akad qardh yang berdiri sendiri untuk tujuan sosial semata seperti yang dimaksud dalam Fatwa DSN-MUI Nomor : 19/DSN-MUI/2001 tentang al-Qardh, bukan sebagai sarana atau kelengkapan bagi transaksi lain dalam produk yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Akad qardh yang dilakukan sebagai sarana atau kelengkapan bagi transaksi lain yang menggunakan akad-akad mu’awadhah (pertukaran dan dapat bersifat komersil) dalam produk yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. penggunaan dana dari pihak ketiga hanya diperbolehkan untuk tujuan komersil anatara lain produk Rahn emas, pembiayaan pengurusan, pengurusan haji lembaga keuangan syariah, pengalihan utang, syariah charge card, syariah card, dan anjak piutang.

Pada laporan posisi keuangan (neraca) periode triwulan akad qardh terletak pada komponen asset atau aktiva. Piutang qardh sama dengan pemberian pinjaman qardh pada nasabah. Dimana piutang qardh pada aktiva syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara peminjam dengan pemberi pinjaman yang mewajibkan peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu hal ini berdasarkan asumsi dari Djoko Muljono (2015:344).

2.3.2 Dasar Hukum Pinjaman Qardh
Berdasarkan tulisan dari Ifhan Noor Adham (2010:38). Dasar hukum pinjaman qardh selain dalam Al-Quran Surah Al-Hadiid ayat 11 yang bermakna: “Barang siapa meminjami Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatkan balasan dan pahalanya”.

Juga terdapat dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi yang bermakna: “Anas bin Malik menyatakan bahwa Rasul-Nya Muhammad SAW bersabda,’saya membaca tulisan infak berbalasan sepuleuh kali lipat dan qardh berbalasan delapan belas kali lipat dipintu syurga. Saya bertanya kepada Jibril mengapa, dan ia menjawab bahwa hal ini karena orang tidak akan menerima pinjaman jika tidak memerlukannya, sedangkan orang akan tetap menerima pemberian meskipun tidak memerlukannya”.

Rukun Transaksi pinjaman Qardh
Menurut Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin (2013:25) pada pinjaman qardh terdapat rukun transaksi yang disyaratkan. Rukun traksaksi pinjaman qardh meliputi:
Pihak yang meminjam (muqtaridh)
Pihak yang memberikan pinjaman (muqridh)
Dana (qardh)
Ijab dan qabul (sighat)
Dana Syirkah Temporer
2.4.1 Pengertian Dana Syirkah Temporer
Menurut Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin (2013:89) dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh entitas syariah dimana entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan entitas syariah atau kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai dengan kesepakatan, sedangkan dalam hal dana syirkah temporer berkurang disebabkan kerugian normal yang bukan akibat dari unsur kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan, entitas syariah tidak berkewajiban mngembalikan atau menutup kerugian atau kekurangan dana tersebut.

Sementara menurut Lukman (2014:2), Dana syirkah adalah yang berasal dari penghimpunan dana yang menggunakan prinsip mudharabah. Dana syirkah merupakan bagian dari dana pihak ketiga yang dihimpun oleh entitas syariah dimana entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan entitas syariah atau kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai kesepakatan. Dan jika terjadi kerugian normal, entitas syariah tidak wajib mengganti kerugian tersebut.

Sedangkan asumsi Dwi Suwiknyo (2010:102) dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh perbankan syariah dimana perbankan syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan perbankan syariah atau dengan kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai dengan kesepakatan, sedangkan dalam hal dana syirkah temporer berkurang disebabkan kerugian normal yang bukan akibat dari unsur kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan, perbankan syariah tidak berkewajiban mengembalikan atau menutup kerugian atau kekurangan dana tersebut. Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai kewajiban.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dana syirkah temporer merupakan dan yang diterima sebagai investasi dengan jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lain dimana bank mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.

2.4.2 Dasar Pengaturan
Dasar pengaturan dalam melaksanakan penghimpunana dana syirkah temporer menurut Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin (2013:88) dapat dilihat dari aturan berikut:
1.SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
2.PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah
3.PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah
2.4.3 Contoh Dana Syirkah Temporer
Menurut Slamet Wiyono dan Taufan Maulamin (2013:89) dana syirkah temporer terdiri dari beberapa dana investasi, yaitu sebagai berikut:
Penerimaan dana dari investasi mudharabah yaitu mudharabah muthlaqah, mudharabah muqayyadah, musyarakah, dan akun lain yang sejenis.

Produk penghimpunan dana mudharabah seperti:
Tabungan mudharabah, yaitu dana mudharabah pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati.

Deposito mudharabah, yaitu dana mudharabah pada bank yang
penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu dengan pembagian hasil sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dimuka antara nasabah (pemilik dana, shahibul mal), dengan bank yang bersangkutan.

Sementara berdasarkan laporan keuangan PT. Bank Muamalat dana syirkah temporer yang dicatat adalah dana yang berasal dari dana investasi akad mudharabah muthlaqah dimana pemilik dana (shahibul maal) memberikan kebebasan pada pengelola dana (mudharib/bank) dalam pengelolaan investasinya dan akan memperoleh bagi hasil sesuai dengan nisbah yang disepakati yang terdiri dari tabungan mudharabah, eposito berjangka mudharabah, sertifkat investasi mudharabah antar bank dan sukuk mudharabah subordinasi.

Pengakuan dana syirkah temporer menurut Slamet wiyono dan Taufan Maulamin (2013:96) dalam neraca hanya dapat dilakukan jika entitas syariah memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana yang diterima melalui pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Jumlah dana syirkah temporer dapat berubah sesuai dengan hasil investasinya.

Beban Operasional
2.6.1 Pengertian Beban Operasional
Menurut Hery (2013:119), seluruh beban merupakan beban operasional,
diluar beban bunga dan pajak. Beban operasioanl dapat dibedakan menjadi dua, yaitu beban penjualan dan beban umum&administrasi. Sementara menurut Dwi Suwiknyo (2010:106), yang dimaksud dengan beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus kas keluar atau berkurangnya asset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanaman modal. Elvi Maria Manurung (2011:4) berasumsi bahwa biaya operasi (operating expense) adalah golongan biaya sehari-hari yang dikeluarkan dalam rangka mengoperasikan perusahaan. Pada penjelasan Ardiyos (2007:403) menyatakan operating expense (beban operasi) adalah suatu beban yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka menunjang kegiatan operasional perusahaan.

Jumingan (2011:32) meyatakan bahwa biaya usaha (operating expense) adalah biaya yang timbul sehubungan dengan penjualan atau pemasaran barang atau jasa dan penyelenggaraan fungsi administrasi dan umum dari perusahaan yang bersangkutan. Selanjutnya Walter T. Harrison Jr, Charles T. Horngren, C. William Thomas dan Themis Suwardy (2011:123) menyatakan bahwa beban operasi adalah beban yang terus dikeluarkan oleh entitas, selain beban langsung barang dagang dan biaya lainnya yang berkaitan langsung dengan penjualan.beban terbesar umumnya termasuk gaji, upah, utilities dan perlengkapan lainnya. Mengingat entitas peduli untuk mengukur beban operasi secara akurat, semakin rendah biaya tersebut semakin efisiensi operasi bisnis, sehingga akan menghasilkan profitabilitas Yang tinggi.

Berdasarkan penjelasa-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa beban operasional adalah biaya-biaya yang ditanggung perusahaan yang berhubungan atau berpengaruh langsung terhadap operasional atau aktivitas perusahaan untuk memperoleh pendapatan dan laba. Sehingga apabila biaya operasional tidak direncanakan dengan benar maka dapat berpengaruh terhadap perolehan laba atau profitabilitas perusahaan.

2.6.2 Jenis-jenis Beban Operasional
Menurut Hery (2009:114) beban operasional dibagi menjadi 2, yaitu:
Beban penjualan
Beban penjualan adalah beban-beban yang terkait langsung dengan segala aktivitas toko atau aktivitas yang mendukung operasional penjualan barang dagang, contohnya adalah beban gaji/upah karyawan, komisi penjualan, dll.

Beban umum dan administrasi
Beban umum dan administrasi dikeluarkan dalam rangka mendukung aktivitas/urusan kantor (administrasi) dan operasi umum, contohnya beban gaji/upah karyawan, beban perlengkapan kantor, dll.

Sementara menurut Djoko Muljono (2015:328), yang termasuk kedalam beban opearsional kegiatan usaha syariah antara lain: beban bagi hasil, beban gaji, beban kerugian piutang, beban ATK, beban transportasi, beban kantor, beban organisasi, beban iklan, dan beban pengembangan.

Profitabilitas
Pengertian Profitabilitas
Menurut Hery (2015:226) rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Profitabilitas disebut juga dengan rentabilitas. Disamping bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, profitabilitas juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan. Mengukur profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan antara berbagai komponen yang ada didalam laporan laba-rugi dan/atau neraca. Sedangkan menurut Harahap (2011:304), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.

Sementara Kasmir (2008:196) berpendapat rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan dan memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusaan. Selanjutnya Malayu S.P Hasibuan (2008:100) menyatakan bahwa Profitabilitas/Rentabilitas adalah suatu kemampuan suatu bank untuk memperoleh laba yang dinyatakan dalam persentase. Selain itu menurut Isfenti Sadalia (2010:63) rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur efektivitas badan usaha dalam menghasilkan laba.

Jenis-jenis Profitabilitas
Menurut Hery (2015:228) profitabilitas terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
Hasil Pengembalian Atas Aset (Return On Assets)
Merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar kontribusi asset dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap dana yang tertanam dalam total asset. Rumus return on asset adalah;
ROA = laba bersih sebelum pajak (EBIT)total aset x 100%
Hasil Pengembalian Atas Ekuitas (Return On Equity)
Hasil pengembalian atas ekuitas merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar kontribusi ekuitas dalam menciptakan laba bersih. Sehingga dapat diartikan rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih terhdap ekuitas. Rumus yang digunakan untuk menghitung hasil pengembalian atas ekuitas, yaitu:
ROE = laba bersih setelah pajak (EAT)total ekuitas x 100%
Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba kotor atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan menbagi laba kotor terhadap penjualan bersih.yang dimaksud dengan penjualan bersih disini adalah penjualan (tunai maupun kredit) dikurangi retur dan penyesuaian harga jual serta potongan penjualan. Rumus yang digunakan untuk mengukur margin laba kotor adalah:
Gross Profit Margin = laba kotorpenjualan bersih x 100%
Margin Laba Operasional (Operating Orofit Margin)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba operasional atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan mengukur laba operasional terhadap penjualan bersih. Berikut adalah rumus untuk menghitung margin laba operasional:
Operating Profit Margin = laba operasioanlpenjualan bersih x100%
Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya persentase laba bersih atas penjualan bersih. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih terhadap penjualan bersih. Rumus yang digunakan adalah:
Net profit margin = laba bersih setelah pajakpenjualan bersih x100%
Return On Asset (ROA)
Menurut Mardiyanto (2009:196) Return On Asset adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang berasal dari aktivitas investasi. Sedangkan Mahmud M. Hanafi dan abdul Halim (2012:159) menyatakan bahwa, Return On assets (ROA) atau sering diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai Rentanilitas Ekonomi mengukur kemampuan perusahaanmenghasilkan laba pada masa lain. Kemudian diproyeksikan kemasa depan untuk melihat kemampuan perushaan menghasilkan laba pada masa mendatang. ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total asset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai asset.

Irham Fahmi (2012:137) menyatakan Return On Asset merupakan rasio yang mengukur profitabilitas perusahaan. Rasio ini melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan. Dilain pihak Hery (2015:228) mengemukakan bahwa hasil pengembalian atas asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar kontribusi asset dalam menciptakan laba bersih.

Sementara itu Lukman Denda Wijaya (2009:119) mengungkapkan bahwa, Dalam penentuan Tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya Return On Assets (ROA) dan tidak memasukkan unsur Return On Equity (ROE). Hal ini dikarenakan Bank Indonesia sebagai Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan rakyat. Sehingga dapat dikatakan bahwa rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih terhadap total asset. Semakin tinggi nilai ROA maka semakin tinggi pula laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Begitu pula sebaliknya. Rasio ini dihitung dengan rumus :
Return On Asset = EBIT (laba bersih sebelum pajak)total aktiva x 100%
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Return On Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang digunakan oleh perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memnbandingkan (membagi) total laba bersih sebelum asset dengan total asset yang ada diperusahaan.

Kelebihan Return On Assets
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007:196), ROA mudah dihitung dan dipahami, merupakan alat pengukur prestasi manajemen yang sensitive terhadap setiap pengaruh keadaan keuangan perusahaan, manajemen menitik beratan perhatiannya pada perolehan laba yang maksimal, sebagai tolak ukur prestasi manajemen dalam memanfaatkan asset yang dimiliki perusahaan untuk memperoleh laba, mendorong tercapainya tujuan perusahaan , sebagai alat mengevaluasi atas penerapan kebijakan-kebijakan manajemen. Sedangkan menurut Mulyadi (2012:38), ROA mendorong manajer memberikan perhatian pada hubungan antara penjualan, biaya-biaya dan investasi, mendorong intesiensi biaya.

Kelemahan Return On Assets
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007:42), kelemahan ROA adalah kurang
mendorong manajemen untuk menambah asset apabila nilai ROA yang diharapkan ternyata terlalu tinggi, manajemen cenderung focus pada tujuan jangka pendek bukan pada tujuan jangka panjang, sehingga cenderung mengambil keputusan jangka pendek yang lebih menguntungkan tetapi berakibat negative dalam jangka panjang. Sedangkan menurut Mulyadi (2012:38). Terdapat kesukaran dalam membandingkan pale of return suatu badan usaha lain yang sejenis, mengingat praktik akuntansi yang digunakan pada badan usaha tersebut berbeda-beda.

Sementara kelemahan ROA menurut Lukman Syamsudin (2004:59) adalah:
1.Sulit membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan lain, karena perbedaan praktek akuntansi antar perusahaan.

2. Analisa ROA saja tidak dapat dipakai untuk membandingkan antara dua perusahaan atau lebih dengan memperoleh hasil yang memuaskan.

Kerangka Pemikiran
Penelitian ini terdiri dari satu variable dependent yaitu profitabilitas return on asset dan lima variable independent yaitu piutang murabahah, pinjaman qardh, dan dana syirkah temporer, dan beban operasional. Untuk memperjelas hubungan antara variable dependent dan variable independent yang digunakan dalam penelitian ini maka digambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut:
Piutang Murabahah (X1)

Pinjaman Qardh (X2)

Profitabilitas (Y)

Dana Syirkah Temporer (X3)

Beban Operasional (X4)

Gambar 1.1 Skema kerangka Pemikiran
Keterangan :
= Pengaruh tidak langsung (simultan).

= Pengaruh langsung (parsial).

2.9Hipotesis
Menurut Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007 : 137) Hipotesis adalah pernyataan atau tuduhan bahwa sementara masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu benar) sehingga harus diuji secara empiris. Sementara Anwar Sanusi (2011:34) menyatakan bahwa hipotesis adalah pernyataan tentang sesuatu yang untuk sementara waktu dianggap benar. Selanjutnya Jemmy Rumengan dan Idham (2015:117) mengemukakan hipotesis adalah jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Sementara Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah (2012:76) berasumsi bahwa hipotesis merupakan proporsisi yang akan diuji keberlakuannya, atau merupakan suatu jawban sementara atas pertanyaan penelitian.

Hipotesis pada penilitian ini diduga piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA) pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk, dengan rumusan sebagai berikut:
Ho : Tidak berpengaruh yang signifikan antara piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasinal terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Peneliti Terdahulu
Berdasarkan hasil penelitian Mutiara Sekar Arum dan Nur Hisamudin Universitas Jember (UNEJ) dengan judul penelitian “Pengaruh Dana Syirkah Temporer, Kewajiban dan Ekuitas Terhadap Profitabilitas Melalui Resiko Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia”, dana syirkah temporer berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah dengan nilai hasil uji ?-value<? yaitu 0,021. Hasil yang menunjukkan pengaruh yang terjadi adalah positif dengan koefisien (?) sebesar 0,105. Ini menunjukkan dana syirkah temporer berpengaruh positif terhadap profitabilitas bank syariah, artinya semakin besar dana syirkah temporer yang dihimpun maka profitabilitas akan semakin besar dikarenakan akan emakin besar dana yang dikelola dalam menghasilkan keuntungan. Keputusan yang dapat diambil adalah H4 diterima. Artinya dana syirkah temporer berpengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas bank syariah Indonesia. Sementara ekuitas tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Pengujian pengaruh ekuitas terhadap resiko pembiayaan ditunjukkan dengan koefisien (?) sebesar -0,472 dengan nilai ?-value 0,354. Karena nilai ?-value > a atau 0,354 > 0,005, maka H6 ditolak. Namun hasil ini berbeda dengan penelitian Sabatini, Ritonga, dan Anisma (2011) dan Supriadi dan Puspitasari (2012) yang menyatakan modal kerja bepengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur.

Sedangkan pada penelitian Fadillah Zainnah Ramadhan (Universitas Komputer Indonesia) yang berjudul “Pengaruh Biaya Produksi dan Biaya Operasional Terhadap Laba Bersih” menyatakan bahwa biaya operasioanal berpengaruh sebesar 10,78% dengan hasil nilai korelasi sebesar 0,621 termasuk kategori kuat dan bertanda positif yang menunjukkan hubungan yang terjadi antara keduanya adalah searah, artinya kenaikan biaya operasional akan diikuti pula oleh kenaikan laba bersih. Sesuai dengan penelitian Wayan Bayu Wisesa, Anjuman Zukhri dan Kadek Rai Suwena (2014) bahwa biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih. Selanjutnya koefisien determinasi yaitu biaya operasional berpengaruh sebesar 10,78% dan sisanya sebesar 80,22% dipengaruhi oleh faktor lain yaitu penjualan, biaya distribusi, dll.

Hasil penelitian dari Anggun Duwi Astuti dengan judul “Pengaruh Pendapatan Bunga, Pendapatan Operasional, Beban Bunga, dan Beban Operasional Terhadap Laba pada PT. Bank Sinar Mas Tbk”, didapat bahwa secara variable beban operasional berpengaruh negative dengan koefisien regresi sebesar -1,767. Dari hasil uji t yang dilakukan hasil yang diperoleh yaitu nilai t hitung -13,180 dan t tabel 1,990 karena t hitung>t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dan signifikansi yang diperoleh dari uji t kurang dari 0,05 (0,042<0,05), maka dapat diambil kesimpulan bahwa X4 (beban operasional) berpengaruh secara parsial terhadap laba PT. Bank Sinar Mas Tbk.

Sementara dari hasil penelitian Dinna Ariyani dengan judul “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah, Bagi Hasil, dan Pinjaman Qardh Terhadap Pertumbuhan Laba Bersih Pada Bank Syariah Periode Triwulan I 2011 sampai Triwulan IV 2013” didapatkan hasil yaitu secara simultan menunjukkan nilai F hitung sebesar 3,321 sedangkan F tabel sebesar 2,668 (df pembilang = 3, df penyebut 32 dan nilai signifikan ? = 0,05. Probabilitas signifikan 0,032 < ? = 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah, Pertumbuhan Pembiayaan Bagi Hasil, Pertumbuhan Pinjaman Qardh secara bersama sama berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba Bersih. Sedangkan Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba Bersih menunjukkan nilai t hitung adalah 2,146 > 1,694 (t tabel ? = 0,05, df = n-k-1) = 32 dengan nilai signifikan (P value = 0,040 < ? = 0,05) ini menyatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Dan Pertumbuhan Pinjaman Qardh secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba Bersih t hitung -1,283 < 1,694 t tabel ? = 0,05 df = n-k-1 (36-3-1) = 32 dengan nilai signifikan (P value = 0,209 < ? = 0,05) ini menyatakan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak.

Sealnjutnya berdasarkan jurnal penelitian dari Ida Zuniarti dan Nurisa Azhari (Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi / KNIST) dengan judul “Dana Syirkah Temporer Dampaknya Terhadap Profitabilitas Bank Syariah Periode 2007-2015” diadapatkan kesimpulan bahwa secara parsial dana syirkah temporer berpengaruh signifikan terhadap ROA pada PT. Bank Muamalat Indonesia, dan secara parsial variabel dana syirkah temporer tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE pada PT. Bank Muamalat Indonesia, dengan nilai koefisien determinasi dana syirkah temporer terhadap ROA (r2) 59,0% yang berarti nilai ROA sebesar 59,0% ditentukan oleh nilai dana syirkah temporer dan sisanya 41,0% dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai koefisien determinasi dana syirkah temporer terhadap ROE (r2) 10,1% yang berarti nilai ROE sebesar 10,1% ditentukan oleh dana syirkah temporer dan sisanya sebesar 89,9% dipengaruhi oleh faktor lain.

Kemudian dalam penelitian Ferdian Arie Bowo (LP2M La Tansa Mashiro, Rangkasbitung) dengan judul “Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas” mendapatkan hasil model regresi yaitu Y= -13,33+1,090x. selanjutnya pembiayaan murabahah berpengaruh secara langsung terhadap profitabilitas dengan nilai r 0,809 yang menyatakan bahwa hubungan antara kedua adalah positif dan sangat kuat denagn nilai t ujinya 3,892 hasilnya tergantung dari pembulatan. Dan nilai R Square nya sebesar 65,45% serta nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 3,899 > 2,306 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa pembiayaan murabahah berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Fadillah Ramadhani Nasution dan Lisa Marlina (alumni dan staf pengajar USU) dalam judul penelitiannya “Pengaruh Biaya Operasional Terhadap Laba Bersih Pada Bank Swasta Nasional Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2011” dengan hasil menunjukkan bahwa Nilai t hitung untuk variabel Beban Bunga sebesar 2,940 dengan nilai signifikan 0,005. Hasil uji menunjukkan t hitung lebih besar dari t tabel (2,940 > 1,998). Dilihat signifikansinya, nilai signifikansi Beban Bunga adalah sebesar 0,005 lebih kecil dari nilai signifikan sebesar 0,05. Hasil perhitungan baik melalui t hitung maupun nilai signifikan, menunjukkan Beban Bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Laba Bersih. Nilai t hitung untuk variabel Beban Administrasi dan Umum sebesar 1,350 dengan nilai signifikan 0,182. Hasil uji tersebut menunjukkan t hitung lebih kecil dari t tabel (0,182 < 1,998). Dilihat signifikansinya, nilai signifikansi Beban Administrasi dan Umum adalah sebesar 0,182 lebih besar dari nilai signifikan sebesar 0,05. Hasil perhitungan baik melalui t hitung maupun nilai signifikan, menunjukkan Beban Administrasi dan Umum tidak berpengaruh signifikan terhadap Laba Bersih. 3. Nilai t hitung untuk variabel Tenaga Kerja sebesar 0,990 dengan nilai signifikan 0,326. Hasil uji tersebut menunjukkan t hitung lebih kecil dari t tabel (0,990 < 1,998). Dilihat signifikansinya, nilai signifikansi Beban Tenaga Kerja adalah sebesar 0,326 lebih besar dari nilai signifikan sebesar 0,05. Hasil perhitungan baik melalui t hitung maupun nilai signifikan, menunjukkan Beban Tenaga Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Laba Bersih.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Menurut Jemmy Rumengan dan Idham (2015:92) penelitian adalah penyelidikan atau investigasi yang terkelola, sistematis, berdasarkan data, kritis, objektif, dan ilmiah terhadap suatu masalah spesifik yang ditujukan untuk menemukan masalah yang terkait. Adapun Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Menurut Suharsimi Arikunto (2013:17) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/menggambarkan variable masa lalu dan sekarang (sedang terjadi). Sementara menurut Sukardi (2014:14) pada penelitian deskriptif ini, peneliti berusaha menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Menurut V. Wiratna Sujarweni (2015:12), penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistic atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Sehingga penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang bertujuan menggambarkkan kepada pembaca dan mengungkapkan suatu masalah, keadaan, atau fenomena sebagaimana adanya (fakta) secara lebih mendalam dengan menggunakan prosedur statistik.

3.2Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data
angka-angka yang berasal dari perhitungan masing-masing atribut pengukuran variable. Sedangkan sumber data dari penelitian ini adalah data sekunder. Menurut Jemmy Rumengan (2010:128), data sekunder adalah data yang bersumber dari hasil pengumpulan data mentahnya yang dilakukan oleh orang lain. Peneliti hanya tinggal mengambil data tersebut dan langsung dapat dianalisis dalam penelitiannya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk yang dipublikasikan pada website resmi Bank Muamalat Indonesia yaitu www.bankmuamalat.co.id dan laporan publikasi OJK (Otoritas Jasa keuangan) yaitu www.ojk.go.id serta laporan publikasi perbankan syariah pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id. Selama periode 2009 sampai dengan 2016 sebanyak 32 data.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
Dokumentasi.

Menurut Sugiyono (2011:329) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dalam penelitian ini dokumentasi adalah pengumpulan data dan analisa data-data penting tentang perusahaan terutama yang berhubungan dengan laporan keuangan pada Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Studi Kepustakaan
Kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari teori-teori dan literature yang berasal dari buku-buku referensi penelitian.

3.4Definisi Operasional Variable
Menurut Jemmy Rumengan dan Idham (2015:78) variable penelitian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variable independen atau variable bebas dan variable dependen atau variable terikat. Variable independen adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dependen (terikat). Sedangkan variable depende adalah variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variable bebas. Selain itu Arikunto (2013:161) variable adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Sehingga Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2013:69) menyatakan definisi operasional variable adalah penentuan construct sehingga menjadi variable yang dapat diukur. Dalam penelitian ini variable independen atau bebas dilambangkan dengan (X) dan variable dependen atau terikat dilambangkan dengan (Y) yaitu sebagai berikut:
Piutang Murabahah (X1)
Menurut Sugeng Widodo (2017:33) murabahah adalah transaksi jual beli yang mana si penjual harus mengungkapkan secara jujur kos komoditas yang dimilikinya ditambah keuntungan yang telah disepakati para pihak (penjual dengan pembeli).

Pinjaman Qardh (X2)
Dwi Suwiknyo (2010:36) mengatakan Al-Qardh (pinjaman kebaikan) digunakan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka pendek (short time). Pinjaman qardh pada penelitian ini dilaporkan Bank Muamalat Indonesia dalam ribuan rupiah.

Dana Syirkah Temporer (X3)
Menurut Lukman (2014:2), Dana syirkah adalah yang berasal dari penghimpunan dana yang menggunakan prinsip mudharabah. Dana syirkah merupakan bagian dari dana pihak ketiga yang dihimpun oleh entitas syariah dimana entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan entitas syariah atau kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai kesepakatan. Dan jika terjadi kerugian normal, entitas syariah tidak wajib mengganti kerugian tersebut.Variable dana syirkah temporer pada Bank Muamalat Indonesia dinyatakan dalam ribuan rupiah.
Beban Operasional (X4)
Elvi Maria Manurung (2011:4) berasumsi bahwa biaya operasi (operating expense) adalah golongan biaya sehari-hari yang dikeluarkan dalam rangka mengoperasikan perusahaan Merupakan beban yang dikeluarkan oleh Bank Muamalat Indonesia dalam kegiatan dan aktivitas operasionalnya yang dinyatakan dalam ribuan rupiah.

Profitabiitas (Y)
Kasmir (2008:196) berpendapat rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan dan memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan Dilaporkan oleh bank Muamalat Indonesia dalam persentase.

Teknik Pengolahan Data
Tekhnik pengolahan data menurut Misbahuddin dan Iqbal Hasan (2013:27)
adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus tertentu. Adapun tekhnik pengolahan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan rumus ROA (Return On Assets) adalah perbandingan antara laba bersih sebelum pajak dengan rata-rata total asset pada laporan keuangan triwulan PT. Bank Muamalat Indonesia. Menurut Thomas Anthanasius (2012:64) rumus ROA adalah sebagai berikut:
ROA = Laba sebelum Pajak (EBIT)Total Aset X100%
Teknik analisis data
Tekhnik analisis data menurut Misbahuddin dan Iqbal Hasan (2013:32) adalah memperkirakan atau dengan menentukan besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu (beberapa) kejadian terhadap sesuatu (beberapa) kejadian lainnya, seta memperkirakan/meramalkan kejadian lainnya. Kejadian dapat dinyatakan sebagai perubahan nilai variable. Analisis data terbagi menjadi dua yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif.

Menurut Danang Sunyoto (2013:26) analisis kuantitatif adalah analisis yang menggunakan rumus-rumus satistik yang disesuaikan judul penelitian dan rumusan masalah, untuk perhitungan angka-angka dalam rangka menganalisis data yang diperoleh. Analisis dapat dilakukan dengan perhitungan manual computer dan dengan menggunakan program computer SPSS. Pada penelitian ini analisis dilakukan dengan program SPSS Versi 20.0 for windows. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Uji Deskriptif Statistik
Uji statistic deskriptif berdasarkan buku Shortcourse Series SPSS 20 (2012:64) adalah penyajian data secara numeric. Uji statistic deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya dengan maksud tidak untuk membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis deskriptif dengan memberikan gambaran data tentang jumlah data minimum (nilai terendah), maximum (tertinggi), mean (rata-rata), dan standar deviasi.

Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukakan analisis persamaan regresi linier berganda, terlebih dahulu akan dilakukan uji asumsi klasik seperti yang meliputi pengujian dibawah ini:
Uji Normalitas
Menurut Danang Sunyoto (2011:84) uji asumsinya akan menguji data variable bebas (X) dan data variable terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Uji normalitas perlu dilakukan untuk memenuhi asumsi bahwa data yang digunakan terdistribusi secara normal. Distribusi normal data adalah dimana data memusat pada nilai rata-rata dari data tersebut. Uji normalitas dilakukan dengan cara melakukan uji grafik normality probability plot dan uji one sample kolomgrov-smirnov.

Uji Grafik Normality Probability Plot (P-P Plot)
Menurut Danang Sunyoto (2011:89) cara grafik ini lebih handal dari pada grafik histogram karena cara ini membandingkan data riil dengan distribusi normal secara kumulatif. Suatu data dikatakan berdistribusi normal jika garis data rill mengikuti garis diagonal. Berikut contoh distribusi data yang normal.

Gambar 3.1
Grafik Normal P-P Plot

Sumber : Output SPSS
Uji One Sample Kolomgrov-Smirnov
Menurut Duwi Priyatno (2014:94) uji one sample kolomogrov-smirnov digunakan untuk mengetahui distribusi data, apakah mengikuti distribusi normal, poisson, uniform, atau exponential. Residual terdistribusi secara normal apabila nilai signifikan lebih dari 0,05. Untuk mengetahui apakah distribusi residual terdistribusi secara normal atau tidak ditentukan dengan criteria sebagai berikut:
Asymp. Sig. (2-tailed) < ? atau signifikansi yang ditetapkan (<0.05) artinya data berdisribusi tidak normal.

Asymp. Sig. (2-tailed) < ? atau signifikansi yang ditetapkan (>0.05) artinya data berdistribusi normal.

Uji Multikolenieritas
Menurut V.Wiratna Sujarweni (2016:230) uji multikolinieritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variable independen yang memiliki kemiripan antar variable independen dalam suatu model. Kemiripan antar variable independen akan mengakibatkan korelasi yang sangat kuat. Selain itu untuk uji ini juga untuk menghindari kebiasaan dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variable independen terhadap variable dependen. Pada penelitian ini pengujian multikolinearitas dilakukan dengan cara membandingkan nilai koefisien determinasi individual dengan nilai koefisien determinasi secara serentak (r2<R2). Menurut Duwi Puriyatno (2012:151) uji multikolinearitas dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Dengan membandingkan nilai koefisien determinasi individual (r2) dengan nilai determinasi secara serentak (R2). Dengan kriteria pengujian yaitu jika r2>R2 maka terjadi multikolenieritas dan jika r2 < R2 maka tidak terjadi multikolenieritas.

Dengan melihat nilai Tolerance dan nilai VIF, yaitu jika nilai VIF kurang dari 10 dan mempunyai angka Tolerance lebih dari 0,01 ini berarti tidak terjadi multikolenieritas, dan sebaliknya.

Uji heteroskedastisitas
Menurut Imam Ghozali (2007:105), uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat diketahui dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scattplot dan uji korelasi Spearman Rho.

Grafik Scatterplots
Metode ini dilakukan dengan cara melihat grafik scatterplot antara standardized predicted value (ZPRED) dengan studentized residual (SRESID), ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya). Dasar pengambilan keputusan, yaitu:
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Korelasi Spearman Rho
Metode ini mengorelasikan variable indipenden dengan tingkat signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi. Jika korelasi antara variable independen didapat signifikan lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.

Uji Autokorelasi
Menurut Danang Sunyoto (2011:91) persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi, jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak dipakai prediksi, salah satu ukuran dalam menentukan ada tidaknya masalah autokolerasi dengan uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan:
Terjadi autokolerasi positif jika nilai DW dibawah -2 (DW < -2)
Tidak terjadi autokolerasi jika nilai DW berada diantar -2 dan +2
Terjadi autokorelasi negative jika nilai DW diatas +2 atau DW > +2
Sementara pendapat Duwi Priyatno (2010:88) autokorelasi adalah keadaan dimana terjadinya korelasi antara residual pada suatu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi pada model regresi, dimana menggunakan metode Durbin Watson dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.

Jika d terletak antara dU dan (4-dL) maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.

Jika d terletak antara dL dan dU atau antara (4-dU) dan (4-dL) maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Nilai dU dan dL dapat diperoleh dari tabel statistic Durbin Watson yang bergantung banyaknya observasi dan banyaknya variable yang menjelaskan.

Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut J.Supranto (2012:239) analisis linear berganda digunakan untuk
memperkirakan/meramalkan nilai variable Y, akan lebih baik apabila kita ikut memperhitungkan variabel-variabel lain yang ikut mempengaruhi Y. dengan demikian kita mempunyai hubungan antara satu variable tidak bebas (Y) dengan beberapa variable lain yang bebas (X1,X2,X3,….Xn). untuk meramalkan Y, apabila semua nilai variable bebas diketahui, maka kita dapat mempergunakan persamaan regresi linier berganda. Dengan persamaan sebagai berikut:
Y = a+ b1X1 + b2X2 + b3X3 +b4X4 + e
Dimana:
Y = Profitabilitas (ROA)
b1,b2,b3,b4 = koefisien regresi
X1 = piutang murabahah
X2 = pinjaman qardh
X3 = dana syirkah temporer
X4 = beban operasional
a = kosnstanta
e = factor lain diluar model
Apabila koefisien regresi memiliki hasil positif, artinya variable independen dan variable dependen memiliki hubungan yang searah, artinya peningkatan/penurunan dari variable independen akan diikuti oleh variable dependen. Sebaliknya, apabila koefisien regresi menunjukkan hasil negatif, maka hal tersebut menunjukkan hubungan yang berlawanan antara variable independen dengan variable dependen. Yang artinya setiap peningkatan variable independen akan diikuti oleh penurunan variable dependen, dan sebaliknya.

Uji hipotesis
Menurut Duwi Puriyatno (2010:9), uji hipotesis adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralsasi). Ada dua jenis uji hipotesis, yaitu:
Uji t (uji parsial)
Menurut Danang Sunyoto (2011:57) uji persial digunakan untuk mengukur
atau asosiasi antara slah satu variable bebas X dan variable terikat Y, sementara variable bebas lain yang diduga ada hubungan dengan salah satu variable bebas tersebut, besarnya bersifat konstan atau tetap. Langkah-langkah untuk melakukan uji t adalah sebagai berikut:
Menentukan Hipotesis
Ho : ? = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antar variabel
independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Ha : ? ? 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antar variabel
independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Menentukan tingkat signifikan
Tingkat signifikan pada penelitian ini adalah 5% berarti risiko kesalahan mengambil keputusan 5%.

Menentukan t tabel
T tabel dicari pada signifikansi 0,05/0,025 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 (n merupakan jumlah data dan k adalah jumlah variabel independen).

Pengambilan keputusan
Jika probabilitas (sig t) > ? (0,05) maka Ho diterima, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial dari variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Jika probabilitas (sig t) < ? (0,05) maka Ha diterima, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial dari variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Uji f (uji simultan)
Menurut Danang Sunyoto (2011:63) uji ini digunakan untuk mengukur hubungan atau tingkat asosiasi antara variable-variabel bebas X terhadap variable terikat Y secara simultan. Uji f adalah pengujian yang dilakukan dengan menggunakan distribusi F, yang bertujuan untuk mengetahui apakah semua variable bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variable terikat dengan cara membandingkan probabilitas tingkat signifikansi hasil output dengan tingkat signifakansi yang ditetapkan.

Berikut langkah-langkah untuk melakukan uji f:
Menentukan hipotesis
Ho : ? = 0, artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Ha : ? ? 0, artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Menentukan tingkat signifikan
Tingkat signifikan pada penelitian ini adalah 5% artinya risiko kesalahan
mengambil keputusan 5%.

Menentukan f tabel
F tabel dicari pada signifikansi 0,05 dengan derajat kebebasan df 1 (jumlah variabel-1) dan df 2 = n-k-1 pada tabel statistic, dimana n merupakan jumlah data dan k merupakan jumlah variabel independen.

Pengambilan keputusan
Jika probabilitas (sig f) > ? (0,05) maka Ho diterima, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Jika probabilitas (sig f) < ? (0,05) maka Ha diterima, artinya ada pengaruh signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Uji Koefisien Determinasi (R2 )
Menurut Duwi Priyatno (2012:134) adjusted R square biasanya untuk mengukur sumbangan pengaruh jika dalam regresi menggunkan lebih dari dua variable independen. Analisis determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya persentase kontribusi pengaruh variable independen secara serentak terhadap variable dependen. Nilai koefisien determinasi (R2) mencerminkan seberapa besar variasi dari variable terikat Y dapat dijelaskan oleh variable bebas X. Apabila nilai koefisien determinasi (R2) sama dengan 0 (R2=0), ini berarti tidak ada sedikitpun persentase sumbangan pengaruh yang diberikan variable independen terhadap variable dependen, atau variasi dari Y tidak dapat dijelaskan sama sekali oleh X. sementara apabila R2=1 ini berarti variasi dari Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X. dengan kata lain apabila R2=1, maka semua titik pengamatan berada tepat pada garis regresi. Sehingga R2 menjadi penentu baik buruknya suatu persamaan regresi.

Populasi dan Sampel
Populasi
Menurut Sumanto (2014:200) populasi adalah kelompok dimana seseorang peneliti akan memperoleh hail penelitian yang dapat disamaratakan. Suatu populasi sekurang-kurangnya satu karakteristik yang membedakan populasi itu dengan kelompok-kelompok lain. Pada penelitian ini populasi yang diambil adalah keseluruhan data laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi Bank Muamalat Indonesia Tbk periode tahun 2009 sampai 2016.

Sampel
Makna sampel menurut Sugiono (2010:81) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang akan diambil dari penelitian ini adalah jumlah piutang murabahah, jumlah pinjaman qardh, jumlah dana syirkah temporer, beban operasional, total asset dan total laba sebelum pajak.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1Sejarah PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk memulai perjalanan bisnisnya sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H. Pendirian Bank Muamalat Indonesia digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Republik Indonesia. Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H, Bank Muamalat Indonesia terus berinovasi dan mengeluarkan produkproduk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat) dan multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia. Selain itu produk Bank yaitu Shar-e yang diluncurkan pada tahun 2004 juga merupakan tabungan instan pertama di Indonesia. Produk Shar-e Gold Debit Visa yang diluncurkan pada tahun 2011 tersebut mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kartu Debit Syariah dengan teknologi chip pertama di Indonesia serta layanan e-channel seperti internet banking, mobile banking, ATM, dan cash management. Seluruh produk-produk tersebut menjadi pionir produk syariah di Indonesia dan menjadi tonggak sejarah penting di industri perbankan syariah.

Pada 27 Oktober 1994, Bank Muamalat Indonesia mendapatkan izin sebagai Bank Devisa dan terdaftar sebagai perusahaan publik yang tidak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada tahun 2003, Bank dengan percaya diri melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebanyak 5 (lima) kali dan merupakan lembaga perbankan pertama di Indonesia yang mengeluarkan Sukuk Subordinasi Mudharabah. Aksi korporasi tersebut semakin menegaskan posisi Bank Muamalat Indonesia di peta industri perbankan Indonesia.

Seiring kapasitas Bank yang semakin diakui, Bank semakin melebarkan sayap dengan terus menambah jaringan kantor cabangnya di seluruh Indonesia. Pada tahun 2009, Bank mendapatkan izin untuk membuka kantor cabang di Kuala Lumpur, Malaysia dan menjadi bank pertama di Indonesia serta satu-satunya yang mewujudkan ekspansi bisnis di Malaysia. Hingga saat ini, Bank telah memiliki 325 kantor layanan termasuk 1 (satu) kantor cabang di Malaysia. Operasional Bank juga didukung oleh jaringan layanan yang luas berupa 710 unit ATM Muamalat, 120.000 jaringan ATM Bersama dan ATM Prima, serta lebih dari 11.000 jaringan ATM di Malaysia melalui Malaysia Electronic Payment (MEPS).

Menginjak usianya yang ke-20 pada tahun 2012, Bank Muamalat Indonesia melakukan rebranding pada logo Bank untuk semakin meningkatkan awareness terhadap image sebagai Bank syariah Islami, Modern dan Profesional. Bank pun terus mewujudkan berbagai pencapaian serta prestasi yang diakui baik secara nasional maupun internasional. Hingga saat ini, Bank beroperasi bersama beberapa entitas anaknya dalam memberikan layanan terbaik yaitu Al-Ijarah Indonesia Finance (ALIF) yang memberikan layanan pembiayaan syariah, (DPLK Muamalat) yang memberikan layanan dana pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan, dan Baitulmaal Muamalat yang memberikan layanan untuk menyalurkan dana Zakat, Infakdan Sedekah (ZIS).

Sejak tahun 2015, Bank Muamalat Indonesia bermetamorfosa untuk menjadi entitas yang semakin baik dan meraih pertumbuhan jangka panjang. Dengan strategi bisnis yang terarah Bank Muamalat Indonesia akan terus melaju mewujudkan visi menjadi “The Best Islamic Bank and Top 10 Bank in Indonesia with Strong Regional Presence”.

4.1.2Visi Misi Perusahaan
1. Visi
Menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia dengan eksistensi yang diakui di tingkat regional.

2. Misi
Membangun lembaga keuangan syariah yang unggul dan berkesinambungan dengan penekanan pada semangat kewirausahaan berdasarkan prinsip kehati-hatian, keunggulan sumber daya manusia yang islami dan professional serta orientasi investasi yang inovatif, untuk memaksimalkan nilai kepada seluruh pemangku kepentingan.

4.1.3Struktur Organisasi Perusahaan
Rapat Umum Pemegang Saham (Shareholders Meeting)
Adalah dewan tertinggi yang ada di Bank Muamalat Indonesia. Tugasnya memimpin rapat pemegang saham serta mengawasi jalannya kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Dewan Komisaris (Board Of Commisioner)
Adalah wakil dari pemegang saham yang mempunyai peran sebagai pengawas dan bersama dewan direksi merumuskan strategi jangka panjang perusahaan. Adapun tugas dewan komisaris adalah sebagai berikut:
Mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perseroan serta memberi nasehat kepada dewan direksi.

Melakukan tugas-tugas secara khusus yag diberikan kepadanya menurut anggaran dasar.

Melakukan pengawasan atas tugas-tugas yang diputuskan oleh rapat umum pemegang saham.

Mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran dasar perseroan serta menyampaikan hasil penilaian serta pendapatnya kepada rapat umum pemegang saham.

Mengikuti perkembangan kegiatan perseroan, dan dalam hal perseroan menunjukkan segala kemunduran, segera dilaporkan kepada rapat umum pemegang saham dengan disertai saran mengenai langkah perbaikan yang harus ditempuh.

Memberikan pendapat dan saran kepada rapat umum pemegang saham mengenai setiap persoalan yang dianggap penting bagi pengelolaan perseroan.

Melakukan tugas-tugas pengawasan lainnya yang ditentukan oleh RUPS dan tugas lain yang berhubungan dengan pemeriksaan dan pengawasan.

Dewan Pengawas Syariah (Sharia Supervisory Board)
DPS dalam organisasi bank bersifat independen dan terpisah dari pengurus bank sehingga tidak mempunyai akses terhadap operasional bank. Adapun tugas dan wewenang DPS adalah sebagai berikut:
Dewan Direksi (Board Of Direction)
Direksi merupakan organ perseroan yang bertanggung jawab menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan, dan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar Bank Muamalat. Secara umum tugas dan tanggungjawab direksi adalah:
Memimpin dan mengurus perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.

Memastikan peningkatan efesiensi, efektifitas dan produktifitas yang tinggi bagi perseroan secara berkesinambungan.

Menerapkan Good Corporate Governance sesuai dengan prinsip dan praktek GCG, buku pedoman dan petunjuk bagi direksi (Board Of Directors Charter and Manual), petunjuk Corporate Governance yang berlaku, dan hal yang telah disarankan oleh Dewan Komisaris, dari waktu ke waktu pada setiap kegiatan usaha dan semua tingkat organisasi perseroan.

Menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan perseroan.

Melakukan pengawasan intern secara efektif dan efisien.

Memantau resiko dan mengelolanya, menjaga agar iklim kerja tetap kondusif sehingga produktifitas dan profesionalisme menjadi lebih baik.

Mengelola pejabat, staf dan karyawan Bank Muamalat.

Melaporkan kinerja perseroan secara keseluruhan kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan.

Administration Group
Ruang lingkup kerjanya yaitu:
Melakukan supervisidan monitoring terhadap segenap kantor cabang atas pelaksanaan atau jalannya operasional.

Melakukan konsolidasi terhadap pembuatan dan monitoring laporan-laporan bulanan keuangan bank dan menyampaikannya pada pihak intern atau ekstern yang berkepentingan.

Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan repegawaiitmen dan seleksi calon karyawan, proses administrasi kegiatan penempatan dan penempatan kembali karyawan, proses terminasi atau pengunduran diri karyawan serta memonitor dan memelihara database kepersonalian.

Melakukan proses dan administrasi pembiayaan karyawan, pembayaran gaji serta pembayaran JAMSOSTEK dan pajak (pph 21) seluruh karyawan serta pengurus bank.

Melakukan koordinasi dalam penyediaan sarana logistic dalam rangka persiapan pembukaan atau pengembangan kantor cabang meliputi jaringan komunikasi dan sarana penunjang operasional lainnya.

Melakukan koordinasi terhadap pengelola system komunikasi data untuk
mendukung operasional online pusat pengolahan data keseluruhan cabang Bank Muamalat Indonesia serta berkoordinasi dengan pihak ekstern.

Corporate Support Group
Ruang lingkup kerjanya dalah sebagai berikut:
Menyiapkan dan melaksanakan legal action atas kebijakan manajemen.

Memberikan masukan dalam penyusunan manual, prodik, akad, dan keputusan yang terkait dengan aspek hukum.

Meningkatkan pengetahuan dalam positif masyarakat tentang Bank Muamalat Indonesia.

Membangun pendekatan dan citra positif Bank Muamalat Indonesia pada emotional market.

Meraih dukungan moril maupun materil dari stakeholder maupun new investor.

Internal Audit Group
Ruang lingkupnya adalah sebagai berikut:
Berwenang untuk melakukan akses terhadap catatan karyawan, sumber daya dan dana serta asset bank lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan audit.

Memriksa dan menilai atas kecukupan dari struktur pengendalian intern.

Memeriksa dan menilai kualitas kerja dalam melaksanakan tanggungjawab yang telah dilaksanakan.

Memberikan saran perbaikan baik untuk kecukupan dan efektifitas atau kehandalan struktur pengendalian intern maupun perbaikan pelaksanaan.

Memberikan informasi dan saran kepada manajemen mengenai hal-hal yang berkaitan dengan upaya menjadikan bank lebih maju.

Business Development Group
Tugas dan tanggungjawabnya dalah sebagai berikut:
Marketing
Marketing plan dan marketing strategy sebagai guidance bagi cabang.

Bersama financing dan sattlement group membuat target landing dan funding revenue system dan technologi.

Melakukan pengembangan system dan teknologi untuk mendukung operasional bank.

Produk dan Development
Melakukan riset, survey, dan pengembangan produk.

Melakukan review produk dan fitur produk.

Merumuskan tariff layanan produk.

Financing Support group
Ruang lingkup kerjanya:
Financing Supervision.

Sharia Financial Institution.

Financing Product Development.

Network and Alliance Group
Tugasnya meliputi berikut:
Network Alliance (Pos, Da’I Muamalat, Pegadaian).

Shar-e and Gerai Optimizing
Virtual Banking Operations (Call center and card center).

Gambar 4.1
Struktur Organisasi Bank Muamalat Indonesia Tbk

Sumber : Website Bank Muamalat Indonesia
Data Penelitian
Data penelitian sangat penting sebelum melakukan pembahasan hubungan antar variabel. Pada penelitian ini diambil data dari perusahaan PT. Bank Muamalat Indonesia berupa laporan keuangan triwulan periode tahun 2009 sampai 2016 sebanyak 32 data. Berikut data serta grafik masing-masing variabel.

Data Piutang Murabahah
Tabel 4.1
Data Hasil Perhitungan Piutang Murabahah
PT. Bank Mumalat Indonesia Tbk (dalam rupiah)
TAHUN TRIWULAN PIUTANG MURABAHAH LOG10
2009 I 4.610.212.000.000 12,6637209
II 4.546.191.000.000 12,65764768
III 4.437.767.000.000 12,6471645
IV 4.527.064.000.000 12,65581663
2010 I 4.896.933.790.000 12,68992423
II 5.305.391.344.000 12,72471742
III 5.619.053.355.000 12,74966316
IV 6.441.601.218.000 12,80899384
2011 I 7.643.452.000.000 12,88328954
II 8.772.485.738.000 12,94312267
III 9.341.958.610.000 12,97043794
IV 10.042.862.193.000 13,0018575
2012 I 10.156.609.035.000 13,00674874
II 11.837.797.077.000 13,07327089
III 13.244.780.842.000 13,12204478
IV 16.324.705.000.000 13,21284534
2013 I 17.727.126.000.000 13,24863833
II 18.341.406.435.000 13,26343263
III 34.409.082.343.000 13,53667309
IV 19.566.857.115.000 13,29152107
2014 I 19.940.603.219.000 13,29973829
II 20.784.337.769.000 13,31773619
III 20.874.975.611.000 13,31962598
IV 20.172.146.338.000 13,30475211
2015 I 19.115.952.000.000 13,28139593
II 18.927.616.864.000 13,27709594
III 18.833.947.000.000 13,27494134
IV 17.314.492.247.000 13,23840976
2016 I 16.629.691.130.000 13,22088418
II 16.557.725.493.000 13,21900068
III 16.748.051.734.000 13,22396429
IV 16.866.086.316.000 13,22701432
Sumber : Data Olahan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk
Gambar 4.2
Grafik Piutang Murabahah

Sumber : Data Olahan Ms.Excel
Grafik diatas menggambarkan jumlah piutang murabahah yang berfluktuasi setiap tahunnya, namun kenaikan dan penurunan yang cukup tajam terjadi pada tahun 2013 dimana kenaikan tertinggi terjadi pada triwulan 2 ke triwulan 3 dengan jumlah kenaikan sebesar Rp.16.067.675.908.000 dan terjadi penurunan yang tajam pada triwulan 3 ke triwula 4 dengan jumlah sebesar Rp.14.842.225.228.000 dan pada tahun selanjutnya mengalami kenaikan dan penurunan namun cenderung stabil.

Data Pinjaman Qardh
Tabel 4.2
Data Hasil Perhitungan Pinjaman Qardh
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk (dalam rupiah)
TAHUN TRIWULAN PINJAMAN QARDH LOG10
2009 I 224.356.000.000 11,350938
II 276.829.000.000 11,442212
III 282.472.000.000 11,450975
IV 303.095.000.000 11,481579
2010 I 383.469.222.000 11,583731
II 443.387.462.000 11,646783
III 539.973.916.000 11,732373
IV 1.183.737.563.000 12,073255
2011 I 1.697.339.000.000 12,229769
II 1.763.871.721.000 12,246467
III 1.852.885.181.000 12,267849
IV 1.933.609.785.000 12,286369
2012 I 1.819.768.668.000 12,260016
II 1.664.710.332.000 12,221339
III 1.422.181.004.000 12,152955
IV 1.275.670.000.000 12,105738
2013 I 958.129.000.000 11,981424
II 722.815.295.000 11,859027
III 983.095.746.000 11,992596
IV 420.635.736.000 11,623906
2014 I 448.729.584.000 11,651985
II 217.799.957.000 11,338058
III 164.581.578.000 11,216381
IV 127.454.600.000 11,105356
2015 I 269.237.000.000 11,430135
II 78.854.646.000 10,896827
III 102.403.000.000 11,010313
IV 230.577.482.000 11,362817
2016 I 191.385.689.000 11,281909
II 376.701.707.000 11,575998
III 276.492.549.000 11,441683
IV 549.170.103.000 11,739707
Sumber : Data Olahan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Gambar 4.3
Grafik Pinjaman Qardh

Sumber : Data Olahan Ms.Excel
Berdasarkan grafik ditas dapat dilihat bahwa jumlah pinjaman qardh tiap tahunnya mengalami kenaikan dan penurunan yang variatif. Dengan kenaikan terbesar terjadi pada tahun 2010 yaitu dari triwulan 3 ke triwulan 4 degan jumlah Rp.643.763.647.000 dan penurunan terjadi pada tahun 2012 triwulan 4 ke 2013 triwulan 1 dengan jumlah Rp.317.541.000.000 selanjutnya terus turun dan naik namun dalam jumlah yang kecil.

Data Dana Syirkah Temporer
Tabel 4.3
Data Hasil Perhitungan Dana Syirkah Temporer
PT. Bank Indonesia Tbk (dalam rupiah)
TAHUN TRIWULAN DANA SYIRKAH TEMPORER LOG10
2009 I 9.915.747.000.000 12,996325
II 11.477.410.000.000 13,059844
III 11.225.597.000.000 13,050209
IV 12.108.497.000.000 13,08309
2010 I 12.215.781.085.000 13,086921
II 12.226.886.982.000 13,087316
III 14.122.025.452.000 13,149897
IV 16.566.219.666.000 13,219223
2011 I 16.235.480.000.000 13,210465
II 18.907.465.035.000 13,276633
III 20.559.538.094.000 13,313013
IV 26.138.676.125.000 13,417284
2012 I 24.503.654.259.000 13,389231
II 25.663.712.701.000 13,409319
III 27.837.891.295.000 13,444636
IV 33.472.444.000.000 13,524687
2013 I 35.380.908.000.000 13,548769
II 37.514.592.393.000 13,5742
III 61.460.268.884.000 13,788594
IV 40.527.764.824.000 13,607753
2014 I 41.477.327.138.000 13,617811
II 44.958.891.454.000 13,652816
III 46.596.058.441.000 13,668349
IV 48.926.215.384.000 13,689542
2015 I 41.661.064.000.000 13,61973
II 42.391.042.844.000 13,627274
III 44.857.358.000.000 13,651834
IV 44.669.926.898.000 13,650015
2016 I 42.058.967.423.000 13,623859
II 40.390.031.553.000 13,606274
III 41.993.655.318.000 13,623184
IV 42.690.894.931.000 13,630335
Sumber : Data Olahan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Gambar 4.4
Grafik Dana Syirkah Temporer

Sumber : Data Olahan Ms.Excel
Berdasarkan grafik diatas dapat dijelaskan bahwa nilai dana syirkah temporer mengalamai kenaikan dan penurunan yang kecil antara tahun 2009 hingga 2013 awal namun memasuki triwulan 2 ke triwulan 3 terjadi kenaikan nilai yang cukup besar yaitu sebesar Rp.23.945.676.491.000. dan terjadi penurunan pada triwulan ke 4 dengan jumlah Rp.20.932.504.060.000.

Data Beban Operasional
Tabel 4.4
Data Hasil Perhitungan Beban Operasional
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk (dalam rupiah)
TAHUN TRIWULAN BEBAN OPERASIONAL LOG10
2009 I 179.901.000.000 11,255034
II 488.561.000.000 11,688919
III 919.355.000.000 11,963483
IV 846.607.000.000 11,927682
2010 I 202.636.279.000 11,306717
II 425.588.101.000 11,628989
III 574.167.206.000 11,759038
IV 788.653.131.000 11,896886
2011 I 226.631.000.000 11,355319
II 461.144.396.000 11,663837
III 703.417.567.000 11,847213
IV 1.006.652.966.000 12,00288
2012 I 975.927.469.000 11,989418
II 580.923.073.000 11,764119
III 904.800.746.000 11,956553
IV 1.248.270.000.000 12,096309
2013 I 377.885.000.000 11,57736
II 785.508.299.000 11,895151
III 1.227.953.195.000 12,089182
IV 1.667.216.733.000 12,221992
2014 I 447.170.785.000 11,650473
II 881.166.307.000 11,945058
III 1.341.941.668.000 12,127734
IV 1.835.949.457.000 12,263861
2015 I 492.886.000.000 11,692746
II 1.014.045.034.000 12,006057
III 1.935.070.000.000 12,286697
IV 2.011.430.053.000 12,303505
2016 I 477.008.142.000 11,678526
II 1.004.288.874.000 12,001859
III 1.401.940.571.000 12,14673
IV 1.709.128.805.000 12,232775
Sumber : Data Olahan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Gambar 4.5
Grafik Beban Operasional

Grafik diatas menggambarkan fluktuasi nilai beban operasional yang sangat menonjol. Dimana setiap tahunnya mengalami kenaikan dan penurunan. Terdapat banyak penurunan nilai yang besar setiap tahunnya namun yang paling tajam adalah penurunan pada tahun 2015 ke 2016 awal dengan jumlah sebesar Rp.1.534.421.911.000. dan kenaikan tertinggi pada tahun 2016 triwulan 1 ke triwulan 2 dengan jumlah sebesar Rp.527.280.732.000.

Data Return On Assets
Tabel 4.5
Data Hasil Perhitungan Return On Assets
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk (dalam rupiah)
TAHUN TRIWULAN EBIT TOTAL ASET ROA(%) LOG 10
2009 I 91.493.000.000 13.393.419.000.000 0,68311908 -0,1655036
II 122.392.000.000 14.819.668.000.000 0,82587545 -0,0830854
III 52.662.000.000 14.747.257.000.000 0,35709692 -0,4472139
IV 64.725.000.000 16.064.093.000.000 0,40291724 -0,3947842
2010 I 55.992.749.000 14.745.808.697.000 0,37971976 -0,4205368
II 81.819.908.000 15.284.530.296.000 0,53531189 -0,2713931
III 139.789.517.000 17.686.000.421.000 0,79039644 -0,102155
IV 231.076.707.000 21.400.793.090.000 1,07975768 0,0333263
2011 I 82.687.895.000 21.608.353.000.000 0,38266635 -0,4171797
II 189.875.086.000 23.656.937.714.000 0,80261904 -0,0954905
III 266.180.742.000 25.596.582.793.000 1,03990734 0,0169946
IV 371.670.266.000 32.479.506.528.000 1,14432239 0,0585484
2012 I 110.436.674.000 30.836.353.198.000 0,35813792 -0,4459497
II 246.051.783.000 32.689.317.540.000 0,75269783 -0,1233793
III 385.865.758.000 35.700.818.292.000 1,08083169 0,0337581
IV 521.841.000.000 44.854.413.000.000 1,16341061 0,065733
2013 I 186.312.000.000 46.471.264.000.000 0,40091873 -0,3969437
II 377.621.961.000 47.958.957.985.000 0,78738567 -0,1038125
III 585.109.450.000 50.754.346.980.000 1,15282628 0,0617639
IV 653.620.388.000 54.694.020.564.000 1,19504908 0,0773857
2014 I 194.652.662.000 54.790.981.546.000 0,35526405 -0,4494487
II 285.385.811.000 58.488.595.140.000 0,48793412 -0,3116388
III 41.576.761.000 59.451.574.701.000 0,06993383 -1,1553127
IV 96.719.801.000 62.413.310.135.000 0,15496663 -0,8097618
2015 I 87.457.000.000 56.062.164.000.000 0,15600004 -0,8068753
II 142.052.876.000 55.859.681.252.000 0,25430306 -0,5946484
III 151.947.000.000 56.501.886.000.000 0,26892377 -0,5703708
IV 108.909.838.000 57.172.587.967.000 0,1904931 -0,7201207
2016 I 33.612.007.000 53.712.592.215.000 0,06257752 -1,2035817
II 40.684.930.000 52.695.732.632.000 0,07720726 -1,1123419
III 50.604.812.000 54.105.544.154.000 0,09352981 -1,02905
IV 116.459.114.000 55.786.397.505.000 0,20875898 -0,6803548
Sumber : Data Olahan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Gambar 4.6
Grafik Return On Asset (dalam %)

Sumber : Data Olahan Ms.Excel
Berdasarkan grafik diatas dijelaskan bahwa nilai profitabilitas setiap tahunnya mengalami fluktuasi yang cukup tajam dengan menggunakan perhitungan Return On Asset dimana profitabilitas didominasi oleh penurunan nilai. Kenaikan yang terjadi idak sebanding dengan penurunan. Penurunan yang paling menonjol terjadi pada tahun 2013 triwulan 4 yaitu 1,195 ketahun 2014 triwulan 1 yaitu 0,355 dengan nilai penurunan sebesar 0,84%.

Analisis Data
Pada bab ini menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data yang telah dikumpulkan, hasil analisis data dan pembahasan dari hasil pengolahan data tersebut. Adapun urutan pembahasan secara sistematis sebagai berikut: Deskriptif Statistik, Uji Asumsi Klasik yang meliputi (uji normalitas, uji mutikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi), Analisis Regresi Linear Berganda, Uji Hipotesis ( uji t dan uji f), dan uji Koefisien Determinasi (R2).

Desktiptif Statistik
Statistik Deskriptif ini memberikan gambaran umum mengenai nilai minimum, maximum, mean (rata-rata), dan standar standar deviation (simpang baku) data variabel yang digunakan dalam penelitian. Hasil output dari masing-masing variabel yaitu: piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, beban operasional, dan profitabilitas (ROA) ditampilkan pada tabel 4.6.

Tabel 4.6
Deskriftive Statistics
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PIUTANG_MURABAHAH 32 9,65 10,54 10,0736 ,25597
PINJAMAN_QARDH 32 7,90 9,29 8,6888 ,40695
DANA_SYIRKAH_TEMPORER 32 10,00 10,79 10,4343 ,23873
BEBAN_OPERASIONAL 32 8,26 9,30 8,8819 ,27963
PROFITABILITAS 32 -1,20 ,08 -,3926 ,38731
Valid N (listwise) 32 Sumber : Output SPSS Versi 20

Berdasarkan tabel diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Piutang Murabahah memiliki jumlah sampel (N) sebanyak 32, dengan nilai minimum sebesar 9,65, nilai maximum sebesar 10,54, mean 10,0736 dan standar deviasi sebesar 0,25597.

Pinjaman Qardh dengan jumlah sampel (N) 32 memiliki nilai minimum sebesar 7,90, nilai maximum 9,29, mean 8,6888 dan standar deviasi sebesar 0,40695.

Dana Syirkah Temporer memiliki jumlah sampel (N) sebanyak 32 dengan nilai minimum sebesar 10,00, nilai maximum 10,79, mean dengan nilai 10,4343 serta nilai standar deviasi sebesar 0,23873.

Beban Operasional memiliki jumlah sampel (N) 32, memiliki nilai minimum sebesar 8,26, nilai maximum 9,30, mean sebesar 8,8819 dan nilai standar deviasi sebesar 0,27963.

Profitabilitas dengan jumlah sampel (N) sebanyak 32 memiliki nilai minimum -1,20 dan nilai maximum 0,08 dengan nilai mean sebesar -0,3926 serta nilai standar deviasi sebesar 0,38731.

Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi berdistribusi secara normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan metode grafik probability plot dan uji 0ne sample kolomogrof-smirnov. Uji normalitas residual dengan metode grafik yaitu dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal di grafik normal P-P Plot dimana jika titik-titik menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal maka nilai residual tersebut telah normal. Sedangkan uji one sample kolomgrof-smirnov dengan melihat nilai signifikansi (Asymp.sig 2-tailed) dengan criteria sigf > 0,05. Berikut hasil output uji normalitas P-P Plot dan uji One Sample Kolomgrov-Smirnov SPSS versi 20.

Gambar 4.7
Grafik Normal P-P Plot
Sumber : Output SPSS Versi 20
Gambar 4.8
Hasil Uji One-Sample Kolomogrof-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 32
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation ,21790133
Most Extreme Differences Absolute ,118
Positive ,079
Negative -,118
Kolmogorov-Smirnov Z ,670
Asymp. Sig. (2-tailed) ,761
Sumber : Output SPSS Versi 20
Dari hasil outup diatas dapat disimpulkan bahwa pada grapik normal P-P Plot data terdistribusi secara normal karena titik-titik menyebar mengikuti garis dan nilai pada uji one sample kolomgrof-smirnov signifikansi (Asymp.sig 2 tailed) lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,761 sehingga data terdistribusi secara normal.

Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas berarti antar variabel independen yang terdapat dalam model regresi memiliki hubungan linear yang sempurna atau mendekati sempurna. Untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala multikolinearitas pada penelitian ini penulis menggunakan pengujian R Square antara variabel independen yang akan dibandingkan dengan nilai R Square secara keseluruhan. Model regresi tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai uji antar variabel independen lebih kecil dari nilai R Square secara keseluruhan (r2<R2). Berikut hasil output uji multikolinearitas berasarkan perbandingan R Square.

Tabel 4.8
Hasil Uji R Square Piutang Murabahah dan Pinjaman Qardh
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,135a ,018 -,011 ,24997
a. Predictors: (Constant), pinjaman_qardh
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.9
Hasil Uji R Square Piutang Murabahah dan Beban Operasional
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,541a ,293 ,272 ,21220
a. Predictors: (Constant), beban_operasional
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.10
Hasil Uji R Square Pinjaman Qardh dan Dana Syirkah Temporer
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,200a ,040 ,012 ,38244
a. Predictors: (Constant), dana_syirkah_temporer
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.11
Hasil Uji R Square Pinjaman Qardh dan Beban Operasional
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,187a ,035 ,007 ,38340
a. Predictors: (Constant), beban_operasional
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.12
Hasil Uji R Square Dana Syirkah Temporer dan Beban Operasional
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,587a ,345 ,325 ,19067
a. Predictors: (Constant), beban_operasional
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.13
Hasil Uji R Square Dana Syirkah Temporer dan Piutang Murabahah
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,985a ,971 ,970 ,03998
a. Predictors: (Constant), piutang_murabahah
Sumber : Output SPSS 20
Tabel 4.14
Hasil Uji R Square Serentak
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,827a ,683 ,637 ,23348
Predictors: (Constant), beban_operasional, pinjaman_qardh, piutang_murabahah, dana_syirkah_temporer
Berdasarkan pengujian perbandingan nilai R square dari uji antara piutang murabahah dan pinjaman qardh sebesar 0,018 nilai piutang murabahah dan beban operasional sebesar 0,293 nilai pinjaman qardh dan dana syirkah temporer sebesar 0,040 nilai pinjaman qardh dan beban operasional sebesar 0,035 nilai dana syirkah temporer dan beban operasional sebesar 0,345 lebih kecil dari nilai R Square secara serentak yaitu senilai 0,683, sehingga didapat hasil r2 < R2 yang artinya tidak terjadi multikolinearitas dimana r2 merupakan koeffisien determinasi secara individual dan R2 koefisien determinasi secara serentak.

Uji Heteroskedastisitas
Metode Grafik Scatterplot
Dalam persamaan regresi berganda perlu diuji mengenai sama atau tidaknya varian dari residual dari observasi yang satu dengan observasi yang lain. Jika residualnya mempunyai varian yang sama disebut terjadi homoskedastisitas dan jika variannya tidak sama atau berbeda disebut terjadi heteroskedastisitas. Persamaan yang baik adalah jika tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Berikut hasil output dari variabel-variabel penelitian.

Gambar 4.8
Grafik Scatterplot

Sumber : Output SPSS Versi 20
Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa titik-titik tidak beraturan atau tidak membentuk pola tertentu dan menyebar dibawah angka 0 dan diatas angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

Metode Korelasi Spearman’s Rho
Pengujian heteroskedastisitas menggunakan tekhnik uji koefesien korelasi spearman’s rho, yaitu mengorelasikan variabel independen dengan residualnya. Pengujian menggunakan tingkat signifikan 0,05 dengan uji dua sisi. Berikut hasil pengujian hteroskedastisitas menggunakan metode korelasi spearman’s rho.

Tabel 4.13
Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho
Correlations
PIUTANG_MURABAHAH PINJAMAN_QARDH DANA_SYIRKAH_TEMPORER BEBAN_OPERASIONAL Unstandardized Residual
Spearman’s rho PIUTANG_MURABAHAH Correlation Coefficient 1,000 -,316 ,938** ,492** ,111
Sig. (2-tailed) . ,078 ,000 ,004 ,546
N 32 32 32 32 32
PINJAMAN_QARDH Correlation Coefficient -,316 1,000 -,389* -,247 -,044
Sig. (2-tailed) ,078 . ,028 ,173 ,810
N 32 32 32 32 32
DANA_SYIRKAH_TEMPORER Correlation Coefficient ,938** -,389* 1,000 ,642** ,061
Sig. (2-tailed) ,000 ,028 . ,000 ,739
N 32 32 32 32 32
BEBAN_OPERASIONAL Correlation Coefficient ,492** -,247 ,642** 1,000 ,040
Sig. (2-tailed) ,004 ,173 ,000 . ,828
N 32 32 32 32 32
Unstandardized Residual Correlation Coefficient ,111 -,044 ,061 ,040 1,000
Sig. (2-tailed) ,546 ,810 ,739 ,828 .

N 32 32 32 32 32
Sumber : Output SPSS Versi 20
Dari hasil output diatas didapat nilai korelasi antar variabel bebas (X) yaitu piutang murabahah, pimjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional dengan Unstandardized Residual memiliki nilai signifikan (sig 2 tailed) lebih dari 0,05 yaitu (0,546), (0,810), (0,739), dan (0,828). Karena nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi yang disusun menurut waktu atau tempat.model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi auto korelasi. berikut hasil pengujian dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW Test).

Tabel 4.14
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 ,827a ,683 ,637 ,23348 2,199
Sumber : Output SPSS Versi 20
Berdasarkan tabel diatas nilai Durbin-Watson yang dihasilkan pada model regresi adalah sebesar 2,199. Nilai DU dapat dicari dengan tabel statistik Durbin-Watson dengan mencari nilai dU dan dL. dimana n(jumlah data) =32, dan k(jumlah variabel independen) = 4. Maka didapat nilai dL adalah 1,1769 dan nilai dU = 1,7323. Maka nilai 4-dU (4-1,7323) = 2,2677 dan nilai 4-dL (4-1,1769) = 2,8231. Karena nilai DW terletak antara dU dan 4-dU yaitu 1,7323 < 2,199 < 2,2677 (dU<DW<4-dU) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah autokorelasi pada model regresi ini.

Analisis Regresi Linear Berganda
Karena variabel yang diteliti lebih dari satu maka analisis yang dilakukan adalah analisis regresi linear berganda. analisis pengaruh piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, beban operasional terhadap profitabilitas yang diukur dalam ROA dapat dilihat dari hasil analisis regresi linear berganda yang hasil outputnya sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta 1 (Constant) 6,449 2,850 2,263 ,032
PIUTANG_MURABAHAH 5,592 1,292 3,696 4,327 ,000
PINJAMAN_QARDH ,345 ,115 ,362 2,991 ,006
DANA_SYIRKAH_TEMPORER -6,962 1,481 -4,291 -4,701 ,000
BEBAN_OPERASIONAL ,730 ,221 ,527 3,305 ,003
a. Dependent Variable: PROFITABILITAS
Sumber : Output SPSS Versi 20
Berdasarkan tabel diatas, dapat disusun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e
Y = 6,449 + 5,592X1 + 0,345X2 – 6,962X3 + 0,730X4 + e
Keterangan:
Y = Profitabilitas
a = Konstanta
b1b2b3b4 = Koefisien regresi (nilai peningkatan atu penurunan)
X1 = Piutang Murabahah
X2= Pinjaman Qardh
X3= Dana Syirkah Temporer
X4= Beban Operasional
e= error
persamaan regresi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Konsatanta sebesar 2,255 artinya jika piutang murabahah (X1), pinjaman qardh (X2), dana syirkah temporer (X3), dan beban operasional (X4) nilainya adalah 0, mka profitabilitas (Y) nilainya adalah 2,255.

Koefisien regresi variabel piutang murabahah (X1) sebesar 3,914 dan bertanda positif artinya jika piutang murabahah mengalami kenaikan sebesar Rp 1 maka nilai profitabilitas (ROA) akan mengalami kenaikan sebesar 3,914 dengan asumsi koefisien lainnya berniai tetap. Dan sebaliknya jika piutang murabahah mengalami penurunan Rp 1 maka profitabilitas (ROA) akan mengalami penurunan sebesar 3,914.

Koefisien regresi variabel pinjaman qardh (X2) sebesar 0,481 artinya apabila piutang murabahah naik Rp 1 maka profitabilitas akan naik senilai 0.481 dan sebaliknya. Bertanda positif berarti kenaikan dan penurunan piutang murabahah akan diikuti oleh kenaikan dan penurunan profitabilitas.

Koefisien regresi variabel dana syirkah temporer (X3) sebesar -5,053. Bertanda negative artinya jika dana syirkah temporer naik Rp 1 maka nilai profitabilitas akan mengalami penurunan sebesar 5,053 dan sebaliknya jika dana syirkah temporer mengalami penurunan Rp 1 maka profitabilitas akan mengalami kenaikan sebesar 5,053. Hal ini disebabkan oleh semakin besar dana syirkah temporer yang dapat dihimpun oleh PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk yang tidak diimbangi dengan kemampuan dalam menyalurkan dana kepada pihak ketiga akan menyebabkan penurunan keuntungan atau laba yang akan diperoleh.

Koefisien regresi variabel beban operasional (X4) sebesar 0,544 artinya artinya kenaikan Rp 1 diikuti dengan kenaikan profitabilitas sebesar 0,544. Hal ini dapat terjadi karena pergerakan perusahaan yang lancar sehingga semakin aktif perusahaan bekerja atau semakin banyak beban operasional menyebabkan aliran dana bergerak secara lancar pada PT. bank Muamalat Indonesia Tbk sehingga keuntungan/ laba yang didapat pun bertambah.

Uji Hipotesis
Uji t
Uji t atau uji parsial dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Berikut hasil uji t dari piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional.

Tabel 4.16
Hasil Uji t
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta 1 (Constant) 6,449 2,850 2,263 ,032
PIUTANG_MURABAHAH 5,592 1,292 3,696 4,327 ,000
PINJAMAN_QARDH ,345 ,115 ,362 2,991 ,006
DANA_SYIRKAH_TEMPORER -6,962 1,481 -4,291 -4,701 ,000
BEBAN_OPERASIONAL ,730 ,221 ,527 3,305 ,003
a. Dependent Variable: PROFITABILITAS
Sumber : Output SPSS Versi 20
Dengan nilai n = 32, ? = 5% : 2 = 2,5% (0,05 : 2 =0,025), k = 4 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 atau 32-4-1 = 27 dengan pengujian 2 sisi hasil t tabel = 2,052.

Berdasarkan hasil uji t diatas daoat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Piutang Murabahah (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada PT. bank Muamalat Indonesia Tbk dengan nilai nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 4,327 > ttabel 2,052.

Pinjaman Qardh (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk dengan nilai signifikan 0,006 < 0,05 dan nilai thitung 2,991 > ttabel 2,052.
Dana Syirkah Temporer (X3) berpengaruh secara signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk yaitu dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 4,701 > ttabel 2,052.

Beban Operasional (X4) berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk dengan nilai signifikan 0,003 < 0,05 dan nilai thitung 3,305 > ttabel 2,052.

Uji f
Uji f dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Berikut hasil uji f yang telah dilakukan.

Tabel 4.17
Hasil Uji f
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 3,178 4 ,795 14,575 ,000b
Residual 1,472 27 ,055 Total 4,650 31 a. Dependent Variable: PROFITABILITAS
b. Predictors: (Constant), BEBAN_OPERASIONAL, PINJAMAN_QARDH, PIUTANG_MURABAHAH, DANA_SYIRKAH_TEMPORER
Sumber : Output SPSS Versi 20

df 1 = 5-1 = 4, df 2 = n-k-1(32-4-1) = 27, dengan signifikansi 0,05.

Berdasarkan hasil pengujian secara simultan (uji f) didapatkan hasil bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan nilai fhitung 14,575 > ftabel 2,728 maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa piutang murabahah, pinjaman qardh, dana smyirkah temporer, dan beban operasional berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi(R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependennya. Nilai R2 yang mendekati 1 berarti variabel variabel independennya memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk memperediksi variabel independen. Berikut hasil analisis koefisien determinasi (R2).

Tabel 4.18
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,827a ,683 ,637 ,23348
Predictors: (Constant), BEBAN_OPERASIONAL, PINJAMAN_QARDH, PIUTANG_MURABAHAH, DANA_SYIRKAH_TEMPORER
Sumber : Output SPSS 20
Berdasarkan tabel diatas diperoleh angka Adjusted R Square sebesar 0.637 atau 63,7%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional terhadap profitabilitas sebesar 63,7% sedangkan sisanya 36,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini seperti pembiayaan bagi hasil, ijarah, modal kerja, dll. Standad Error of Estimate sebesar 0,23348. Hal ini berarti kesalahan dapat terjadi dalam memprediksi profitabilitas sebesar 0,23348. Semakin kecil nilai Standard Error of estimate maka semakin kecil pulalah tingkat kesalahan atau semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen (profitabilitas).

Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan Secara Parsial
Pengaruh Piutang Murabahah (X) terhadap Profitabilitas (Y)
Pengujian pertama, variabel independen piutang murabahah dengan nilai t hitung 4,327 lebih besar dari t tabel 2,052 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya piutang murabahah berpengaruh terhadap profitabilitas secara signifikan pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk dalam peiode 2009-2016. Hali ini berarti semakin besar piutang murabahah maka semakin besar pula profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Pengaruh Pinjaman Qardh (X) terhadap Profitabilita (Y)
Pengujian kedua, variabel independen pinjaman qardh dengan nilai t hitung 2,991 lebih besar dari t tabel 2,052 dengan nilai signifikansi 0,006 < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima artinya pinjaman qardh berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk selama periode 2009-2016. Semakin besar pinjaman qardh maka semakin tinggi pula profitabilitas yang didapat.

Pengaruh Dana Syirkah Temporer (X) terhadap Profitabilitas (Y)
Pengujian ketiga, variabel independen dana syirkah temporer dengan nilai t hitung 4,701 lebih besar dari t tabel 2,052 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya dana syirkah temporer berpengaruh secara signifikan terhadap profitablitas PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk. Negative disini dapat diartikan himpunan dana syirkah temporer yang tidak seimbang dengan kemampuan dalam menyalurkan dana kepada pihak ketiga sehingga dapat menyebabkan penurunan pada laba/keuntungan perusahaan.

Pengaruh Beban Operasional (X) terhadap Profitabilitas (Y)
Pengujian keempat, variabel independen beban operasional dengan nilai t hitung 3,305 lebih besar dari t tabel 2,052 dengan nilai signifikansi 0,003 < 0,05. Hal ini berarti beban operasional berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk karena Ho ditolak dan Ha diterima. Bernilai positif ini dikarenakan pada perbankan semakin besar beban operasional (gaji karyawan,bonus,dsb) berarti aktivitas perusahaan yang lancar baik dalam penghimpunan dana atau pengumpulan nasabah yang dapat menambah laba dari perusahaan perbankan.

Pembahasan Secara Simultan
Hasil pengujian secara simultan (F) dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai hasil uji F hitung dengan F tabel yaitu f hitung sebesar 14,575 dan f tabel sebesar 2,73 dengan df 1 (pembilang) 5-1 = 4, dan df 2 (penyebut) 32-4-1 = 27 dengan probabilitas 0,05. Sehingga thitung > ttabel = 14,575 > 2,73 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya secara simultan variabel independen berpengaruh dengan variabel dependen.

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:
Piutang murabahah berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk secara parsial dengan nilai signifikan uji t sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai nilai t hitung 4,327 lebih besar dari t tabel yaitu 2,052. Nilai t hitung positif yang memberi arti bahwa semakin besar jumlah piutang murabahah maka penyaluran dana yang dikelola baik sehingga laba naik dan otomatis menaikkan nilai profitabilitas.

Pinjaman qardh secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk dengan nilai t hitung 2,991 lebih besar dari t tabel 2,052 dan nilai signifikansi 0,006 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar jumlah pinjaman qardh yang disalurkan maka akan profitabilitas akan naik, begitupun sebaliknya apabila jumlah pinjaman qardh menurun maka nilai profitabilitas pun menurun.

Dana syirkah temporer berpengaruh negatif terhadap profitabilitas PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk, hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikan lebih kecil dari tingkat kesalahan yaitu 0,000 < 0,05 dan nilai t hitung yaitu -4,701. Bernilai negatif artinya apabila dana syirkah temporer mengalami kenaikan maka profitabilitas akan mengalami penurunan begitupun sebaliknya apabila dana syirkah temporer turun maka profitabilitas akan naik. Hal ini disebabkan himpunan dana syirkah temporer yang tidak seimbang dengan kemampuan dalam menyalurkan dana kepada pihak ketiga sehingga dapat menurunkan laba atau keuntungan dan berarti dapat menurunkan profitabilitas juga pada perusahaan.

Beban operasional berpengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk, dengan nilai signifikansi sebesar 0,003 < 0,05 dan nilai t hitung 3,305 lebih besar dari t tabel 2,052. Beban operasional bernilai positif ini dikarenakan pada perbankan semakin aktif pekerja atau karyawan dalam mencari nasabah atau penghimpun dana maka semakin tinggi pula himpunan dana yang diperoleh. Karyawan yang aktif bekerja berarti menambah beban operasional seperti bertambahnya biaya transportasi bagi marketing, bonus bagi pekerja yang mencapai target, kenaikan gaji dan sebagainya. Sehingga semakin besar jumlah beban operasional maka akan semakin besar pula jumlah keuntungan/laba yang berimbas pada profitabilitas yang diperoleh.
Secara simultan piutang murabahah, pinjaman qardh, dana syirkah temporer, dan beban operasional berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada PT. Bank muamlat Indonesia Tbk. Yang ditunjukkan pada nilai sifnifikan uji f sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai f hitung 14,575 lebih besar dari f tabel yaitu 2,728.

Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian penulis memberikan saran bagi perusahaan dan peneliti selanjutnya sebagai berikut:
Untuk perusahaan disarankan agar lebih baik dalam memanajemenkan aktivitas perusahaanya baik dalam penghimpunan dan penyaluran dana serta kinerja karyawan. Dalam penyaluran dana perusahaan harus menyesuaikan dengan dana yang telah dihimpun agar tidak terjadi ketidakseimbangan sehingga dapat menyebabkan pengaruh yang tidak searah bahkan dapat merugikan perusahaan.

Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah data dan variabel lainnya yang mempengaruhi profitabilitas pada perusahaan yang sama, karena pada penelitian ini penulis hanya meneliti dari periode 2009 hingga 2016.