Topik hidup sehat dan bersih tidak pernah berhenti menjadi fokus perbaikan pemerintah

Topik hidup sehat dan bersih tidak pernah berhenti menjadi fokus perbaikan pemerintah. Segala upaya pengenalan aspek kesehatan dan kebersihan baik tingkat diri sendiri sampai lingkungan dilakukan agar masyarakat mengetahui pentingnya pengelolaan kesehatan untuk kesejahteraan hidup. Dalam menjangkau seluruh lapisan, pemerintah melakukan gerakan-gerakan penyuluhan yang dilakukan mulai tingkat pendidikan hingga melalui iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di beragam stasiun televisi. Beberapa upaya yang telah atau sedang berjalan antara lain Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Program Dokter Kecil, Nusantara Sehat, dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Perubahan-perubahan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan tentunya memiliki alasan. Alasan dasar yaitu agar angka penyakit dan kematian negara menurun setiap tahunnya. Membahas mengenai penyakit, dalam artikel yang berjudul Perancangan Digital Interactive Storybook Bertema Ritual Kebersihan Anak Usia 9-10 Tahun, Prayogi menuliskan bahwa ketua Ikatan dokter Indonesia, dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad menjelaskan bahwa ada 4 hal utama pemicu timbulnya penyakit yaitu, perilaku sebesar 40%, lingkungan sebesar 30%, genetik atau bawaan sebesar 20%, dan akses pada tempat kesehatan sebesar 10%.
Melihat data di atas dapat dikatakan lingkungan menjadi urutan kedua teratas setelah perilaku dengan angka 30%. Lingkungan memiliki peran yang ternyata cukup besar atas timbulnya penyakit di masyarakat. Didasari atas hal tersebut, kementerian kesehatan memaparkan dalam Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016 bahwa minimal ada 2 tempat-tempat umum yang harus dikelola oleh pemerintah daerah agar memenuhi syarat kesehatan, yaitu: pertama sarana pendidikan dasar dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat dan kedua pasar rakyat. Dengan pemaparan tersebut dapat penulis simpulkan bahwa lingkungan sekolah menjadi fokus pemerintah dalam melaksanakan program lingkungan sehat dan bersih.
Program Lingkungan Bersih di Sekolah
Lingkungan sekolah memang menjadi sarana terbaik bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program perbaikan kesehatan. Sebagaimana pendapat Irwandi (2016) bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan sikap siswa sebagai bekal untuk meningkatkan taraf hidup dan sebagai tempat pembentukan karakter yang akan dibawanya saat terjun ke masyarakat. Jadi, ada harapan nantinya para siswa akan memiliki perilaku positif di lingkungan masyarakat sesuai dengan pengetahuan yang telah diberikan di lingkungan sekolah. Harapan tersebut tak terkecuali untuk perilaku hidup bersih dan sehat pula.
Pemerintah telah memiliki program hidup bersih dan sehat yang menjangkau sekolah. Dokter kecil merupakan salah satu program tersebut. Program ini memberikan hasil yang baik dalam mengupayakan hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah terutama untuk para siswa. Sesuai dengan hasil penelitian Maimun (2017) bahwa ada peningkatkan pemahaman siswa terkait program hidup bersih dan sehat dari 74,5% menjadi 95,7% setelah teman sebaya (dokter kecil) memberikan penjelasan melalui media poster. Maimun juga menegaskan dalam penelitian tersebut bahwa pengetahuan tentang hidup bersih dan sehat memang memerlukan teman sebaya sebagai pusat informasi siswa ketika berada di lingkungan sekolah. Hal ini dikarenakan para siswa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman sebaya. Dengan adanya dokter kecil, maka teman sebaya tersebut dapat menjadi contoh sekaligus pengontrol terhadap rutinitas yang dilakukan temannya.
Program hidup bersih dan sehat memiliki banyak aspek yang diajarkan diantaranya yaitu, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, tidak merokok, mengonsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik setiap hari, membuang sampah pada tempatnya, dan menggunakan toilet yang bersih. Keseluruhan aspek tersebut tentu tidak dapat dikontrol seluruhnya oleh pihak sekolah terutama dokter kecil yang menjadi pengingat teman sebaya. Meski demikian, ada pula rutinitas positif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang bisa dilakukan dan mendapat pengawasan. Kegiatan tersebut adalah membuah sampah pada tempatnya. Kegiatan ini tentunya mudah untuk diterapkan dan ditularkan kepada teman bermain di sekolah. Pengawasan agar terwujud perilaku bersih melalui kegiatan membuang sampah juga mudah dilakukan. Sebab menjaga kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya tanggung jawab penjaga sekolah namun seluruh anggota sekolah terutama para siswa.
Tingkat Pemahaman Siswa Terhadap Sampah
Mengedukasi siswa tentang perilaku membuang sampah sudah dilakukan oleh pemerintah sejak dulu. Media yang digunakan pun juga beragam. Bahkan kurikulum terbaru selalu menyisipkan konten hidup bersih dan sehat disetiap mata pelajaran dan juga kompetensi dasar. Namun, hasil penelitian Purnami pada artikelnya yang berjudul Internalisasi Kesadaran Ekologis Melaui Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah Dasar menjelaskan bahwa siswa belum mengerti secara umum jenis sampah dan manfaat sampah serta bahayanya. Siswa hanya tahu bahwa salah satu perilaku positif adalah membuang sampah tanpa tahu tujuan dan akibatnya dan itu pun hanya 56,16% siswa yang memahaminya. Dalam penelitiannya, Purnami (2016) menyebutkan bahwa lebih dari 50% siswa tidak tahu perbedaan sampah organik dan non organik, 60,27% siswa tidak mengetahui bahwa beberapa sampah dapat dimanfaatkan, dan 50,64% siswa tidak tahu bahaya sampah jika dibiarkan.
Tingkat pemahaman siswa tentang sampah nyatanya masih rendah. Hal ini bukan karena kurang aktifnya pihak pengajar dalam memberikan pengetahuan, namun dikarenakan metode yang kurang interaktif dan persuasif serta fasilitas sekolah yang tidak menunjang tingkat pemahaman siswa. Belum banyak sekolah yang menyediakan tempat sampah dengan 3 warna berbeda untuk 3 jenis sampah. Selain itu, metode penjelasan lisan tanpa visualisasi yang menarik juga bisa menjadi faktor rendahnya pemahaman siswa. Dalam pembelajaran mengenai sampah, siswa perlu melakukan kegiatan-kegiatan yang mengajaknya berpikir kritis dan terlibat dalam sebuah permasalahan kebersihan lingkungan.